Media KampungJakarta, 16 Juni 2026 – Banyak orang tua cemas ketika anaknya sudah pandai mengobrol tetapi belum hafal huruf alfabet. Namun, dari sudut pandang neurosains, justru inilah bukti kecanggihan otak anak yang mampu berbicara lancar sebelum mengenal huruf.

Studi kolaboratif oleh Eylem Altuntas dkk. dari MARCS Institute, Western Sydney University, menemukan bahwa sejak usia 4–6 bulan, bayi sudah mampu mengenali pola abstrak konsonan. Otak bayi tidak sekadar meniru suara secara pasif, melainkan aktif menangkap aturan bahasa dan mengaitkannya dengan stimulus visual.

Peneliti Will Lawton dkk. menunjukkan bahwa kualitas interaksi dua arah—bukan kuantitas kata yang didengar—yang mematangkan kemampuan bahasa. Bayi yang sering diajak mengobrol secara responsif memiliki perkembangan otak lebih adaptif dalam mendukung bahasa.

Proses ini diukur melalui mielinisasi white matter, yaitu penebalan lapisan mielin pada serabut saraf. Dua jalur utama, arcuate fasciculus dan superior longitudinal fasciculus, menjadi lebih matang akibat stimulasi percakapan hangat. Alhasil, komunikasi antarbagian otak lebih lancar, memudahkan anak memahami dan memproduksi bahasa.

Temuan ini menegaskan bahwa kemampuan bahasa anak tidak tumbuh otomatis seiring usia. Lingkungan bahasa yang kaya akan interaksi verbal dua arah sejak bayi menjadi stimulus neurosains pertama yang membangun sirkuit bahasa kokoh, jauh sebelum anak mengenal huruf atau membaca buku.

Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.