Media Kampung – Fenomena fatherless atau minimnya peran ayah dalam pengasuhan anak menjadi sorotan praktisi kesehatan jiwa. Kondisi ini dinilai berpengaruh terhadap perkembangan emosional, sosial, hingga kesehatan mental anak. Penasehat PDSKJI Malang Raya, dr. Wisnu Wahyuni, SpKJ(K), menjelaskan bahwa fatherless tidak selalu berarti anak kehilangan ayah secara fisik. Banyak ayah yang hadir di rumah tetapi tidak terlibat secara emosional dalam pendampingan anak sehari-hari.
Menurut dr. Wisnu, anak membutuhkan perhatian, kepedulian, dan keterlibatan ayah dalam proses tumbuh kembangnya, bukan sekadar pemenuhan kebutuhan finansial. Perubahan peran ayah mulai terlihat sejak revolusi industri, ketika laki-laki lebih banyak bekerja di luar rumah. Pola ini membentuk anggapan bahwa tugas utama ayah hanya sebagai pencari nafkah, padahal anak juga membutuhkan sosok ayah sebagai teladan dan pembimbing.
Kurangnya keterlibatan ayah dapat memunculkan berbagai dampak pada anak, seperti kesulitan mengelola emosi, mudah tantrum, rendahnya motivasi belajar, dan kesulitan membangun hubungan sosial yang sehat. Dalam kasus tertentu, kondisi ini bahkan berkontribusi terhadap masalah kesehatan mental yang lebih serius. Dr. Wisnu menegaskan bahwa meskipun fatherless bukan satu-satunya faktor, kondisi ini memengaruhi cara anak berpikir, mengelola emosi, dan menghadapi tantangan hidup.
Ia mengajak para orang tua, khususnya ayah, untuk meningkatkan kualitas keterlibatan dalam kehidupan anak. Kehadiran ayah tidak cukup hanya secara fisik, tetapi perlu diwujudkan melalui komunikasi, perhatian, dan pendampingan yang konsisten. Dengan demikian, anak dapat tumbuh lebih sehat secara emosional dan sosial.
Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.





Tinggalkan Balasan