Media Kampung – Setelah mengalami blackout total pada Jumat, 22 Mei 2026, sistem kelistrikan di Pulau Sumatera akhirnya pulih dan kembali normal. Pemadaman listrik yang berdampak pada sekitar 13,1 juta pelanggan di berbagai provinsi Sumatera ini menjadi sorotan penting terkait proses pemulihan sistem kelistrikan yang harus dilakukan secara hati-hati dan bertahap.
Anggota Dewan Energi Nasional (DEN), M Kholid Syeirazi, menjelaskan bahwa proses pemulihan sistem kelistrikan skala besar seperti di Sumatera tidak bisa dilakukan secara instan. Hal ini dikarenakan seluruh komponen sistem harus tersinkronisasi kembali dengan stabil agar kestabilan frekuensi, tegangan, dan sudut fasa sistem dapat terjaga. “Yang dikejar bukan sekadar cepat menyala, tetapi memastikan sistem kembali normal secara aman dan andal,” ujarnya.
Kholid menambahkan, dalam sistem interkoneksi yang membentang ribuan kilometer dan melibatkan banyak pembangkit dan jaringan transmisi, kestabilan frekuensi menjadi indikator utama keseimbangan antara daya pembangkitan dan beban pelanggan. Jika proses recovery dilakukan terlalu cepat tanpa sinkronisasi yang tepat, frekuensi dapat turun lagi dan memicu pembangkit lepas dari sistem, memperparah gangguan.
Gubernur Sumatera Utara, Bobby Nasution, turut menegaskan bahwa peristiwa blackout ini harus menjadi pelajaran penting agar kejadian serupa tidak terulang. Ia menyoroti pentingnya sistem cadangan listrik, terutama untuk pelayanan vital seperti rumah sakit. “Kami meminta dukungan agar tidak lagi terjadi blackout, mengingat dorongan pemerintah untuk penggunaan listrik di berbagai sektor semakin besar,” katanya.
Pihak PLN juga telah melakukan percepatan pemulihan dengan menormalkan pasokan listrik di banyak wilayah terdampak dalam waktu relatif singkat. Meski begitu, pemulihan dilakukan secara bertahap dan terukur agar sistem interkoneksi tetap stabil dan aman.
Selain itu, Kementerian Komunikasi dan Digital mengonfirmasi bahwa layanan telekomunikasi di Sumatera telah pulih 100 persen sejak 28 Mei 2026 pukul 00.00 WIB dan tetap stabil hingga waktu berikutnya. Sebelumnya, gangguan telekomunikasi terjadi akibat blackout yang menyebabkan ribuan situs base transceiver station (BTS) padam, namun kini semua layanan telah kembali normal tanpa gangguan susulan.
Pengamat energi dan Direktur Pusat Studi Kebijakan Publik, Sofyano Zakaria, menilai bahwa kejadian blackout ini merupakan momentum untuk memperkuat sistem backbone listrik nasional. Menurutnya, gangguan skala besar seperti ini juga pernah dialami negara maju dan harus dipandang secara proporsional. Ia menekankan pentingnya koordinasi dan prosedur pengamanan dalam proses pemulihan sistem agar jaringan kembali stabil dan dapat diandalkan.
Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.







Tinggalkan Balasan