Media Kampung – Hari Kebangkitan Nasional yang diperingati setiap tanggal 20 Mei di Indonesia pada tahun 2026 tidak termasuk dalam daftar hari libur nasional. Pemerintah memastikan bahwa tanggal ini tidak menjadi hari libur maupun cuti bersama, sehingga aktivitas perkantoran, sekolah, dan layanan publik tetap berjalan seperti biasa.

Keputusan ini merujuk pada Surat Keputusan Bersama (SKB) dari tiga menteri yang menetapkan kalender hari libur nasional dan cuti bersama tahun 2026. Dalam dokumen resmi tersebut, Hari Kebangkitan Nasional tidak tercantum sebagai tanggal merah, sehingga masyarakat tidak mendapatkan libur resmi pada 20 Mei 2026.

Peringatan Hari Kebangkitan Nasional sendiri memiliki makna penting sebagai momentum untuk mengenang semangat persatuan dan kesadaran nasional yang tumbuh di Indonesia. Tanggal 20 Mei dipilih karena bertepatan dengan kelahiran organisasi Boedi Oetomo pada tahun 1908, yang menjadi salah satu tonggak awal kebangkitan nasional dan kesadaran kemerdekaan bangsa Indonesia.

Boedi Oetomo didirikan oleh para pelajar dari School tot Opleiding van Inlandsche Artsen (STOVIA) di Jakarta dan bergerak di bidang pendidikan, sosial, serta kebudayaan untuk mengangkat martabat bangsa pribumi pada masa penjajahan. Pemerintah kemudian menetapkan 20 Mei sebagai Hari Kebangkitan Nasional berdasarkan Keputusan Presiden Nomor 316 Tahun 1959 tentang Hari-hari Nasional yang Bukan Hari Libur.

Meski tidak termasuk hari libur, peringatan Harkitnas biasanya dilakukan melalui upacara resmi, kegiatan edukasi, serta perayaan di berbagai instansi pemerintah dan sekolah. Hal ini bertujuan untuk terus mengingatkan masyarakat akan pentingnya persatuan dan semangat perjuangan bangsa Indonesia.

Sementara itu, masyarakat masih dapat menikmati sejumlah hari libur nasional dan cuti bersama lainnya yang telah ditetapkan pemerintah sepanjang tahun 2026. Namun, khusus untuk tanggal 20 Mei, aktivitas tetap berjalan normal tanpa adanya libur resmi.

Dengan demikian, meskipun Hari Kebangkitan Nasional tidak menjadi hari libur, momentum ini tetap dijadikan waktu yang tepat untuk mengenang sejarah dan memperkuat rasa nasionalisme di tengah masyarakat Indonesia.

Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.