Media Kampung – Anthony Edwards kembali ke lapangan pada Game 1 semifinal Barat melawan San Antonio Spurs meski masih merasakan nyeri pada kedua lututnya, dan ia berhasil mencetak 18 poin, termasuk 11 poin krusial pada kuarter keempat yang mengamankan kemenangan 104-102 untuk Minnesota Timberwolves.
Menurut laporan dari mediakampung.com, Edwards mengalami peradangan pada lutut kanan serta hiperextensi dan memar tulang pada lutut kiri sejak seri putaran pertama melawan Denver Nuggets. Setelah menjalani rehabilitasi intensif yang meliputi treadmill air dan latihan pita elastis, ia menguji kondisi lututnya dalam latihan dan meyakinkan staf medis bahwa ia siap bermain lebih awal dari perkiraan.
Timberwolves menempatkan Edwards pada batasan menit, yaitu 25 menit dari bangku cadangan, namun pemain berusia 24 tahun itu memanfaatkan setiap detiknya. Ia menyerang pertahanan Spurs dengan dribel cepat, menembak dengan efisiensi tinggi, dan mengonversi 11 dari 18 poinnya pada menit‑menit akhir pertandingan, memberi timnya keunggulan yang tak dapat dipulihkan oleh lawan.
“I wanted to be out there with my brothers,” ujar Edwards dalam wawancara pasca pertandingan dengan mediakampung.com. Ia menambahkan, “I mean, everybody in the arena is against us. That’s the best thing about it. You start on the road, everybody got on pink, blue, whatever color shirts there is, chanting ‘Go Spurs Go,’ and I’m with Minnesota. I got Minnesota’s back at all times. I’m out there with my brothers and we’re going to war.”
Mike Conley, veteran guard Timberwolves, juga memberikan pujian kepada Edwards. “Nobody expected him to play,” kata Conley, lalu menambahkan, “I called him my hero before the game.” Pernyataan ini tercatat dalam liputan mediakampung.com yang mengutip komentar Conley pada konferensi pers setelah kemenangan.
Kondisi fisik Edwards menjadi bahan perdebatan di dalam organisasi. Jika ia memilih beristirahat selama dua pertandingan di San Antonio, lututnya akan mendapatkan istirahat total 13 hari. Namun, mengingat pengalaman melihat rekan setim Donte DiVincenzo mengalami cedera serius pada postseason ini, Edwards memutuskan untuk menanggung beban tersebut demi tim.
Sejarah singkat Edwards menegaskan mengapa keputusan itu dipahami. Pemain yang pernah meraih medali emas Olimpiade, gelar All‑Star MVP, dan memimpin Timberwolves ke final konferensi pada dua musim berturut‑turut, kini berada di fase karier yang menjanjikan. Ia menjadi bagian penting dalam upaya tim mengalahkan Spurs yang mencatatkan 62 kemenangan pada musim reguler.
Statistik pertandingan menunjukkan bahwa selain kontribusi ofensifnya, Edwards turut membantu pertahanan tim. Timberwolves berhasil menahan serangan utama Spurs, termasuk Victor Wembanyama, pada paruh pertama dengan menurunkan skor lawan menjadi 45 poin. Kombinasi pertahanan ketat dan dorongan mental dari Edwards menjadi faktor penentu.
Edwards tidak menutup diri terhadap kesalahan yang ia buat di akhir pertandingan. “Man, I made so many mistakes at the end of the game. I’m disappointed in myself,” ia mengakui, menambahkan, “For me, 75 percent of the game is my mind. My mind has got to be where it needs to be in. In the last two minutes of the game, it wasn’t. I gave up two offensive rebounds, turned the ball over. Yeah, I’ll be better.”
Meski ia sempat merasakan ketidaknyamanan pada lutut saat mengambil rebound di menit‑menit akhir, kehadirannya tetap menjadi pendorong utama serangan Timberwolves. Setelah menutup keunggulan dengan tiga poin penting dari Conley, tim Minnesota menahan tekanan Spurs hingga jeda akhir, memastikan kemenangan tipis namun signifikan.
Saat ini, seri akan dilanjutkan dengan dua pertandingan lagi di San Antonio sebelum kembali ke Minnesota untuk Game 3 dan 4. Edwards diperkirakan akan tetap berada di bawah pengawasan medis, namun tim berharap ia dapat mempertahankan performa yang ditunjukkan pada Game 1 sambil mengelola beban cedera.
Kemenangan ini menambah tekanan pada Spurs yang diharapkan menjadi favorit dengan catatan 62 kemenangan. Bagi Timberwolves, keberanian Edwards bermain melalui rasa sakit menegaskan tekad tim untuk melaju lebih jauh di playoff, meski risiko cedera tetap menjadi pertimbangan penting.
Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.







Tinggalkan Balasan