Media Kampung – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diproyeksi akan mengalami tekanan penurunan pada perdagangan Selasa, 5 Mei 2026, sehingga investor dituntut meninjau kembali rekomendasi saham pilihan hari ini.

Menurut analis PT MNC Sekuritas, Herditya Wicaksana, IHSG berada dalam gelombang koreksi wave A dari wave 2 dan diperkirakan akan menguji level support 6.838 hingga 6.745 serta menghadapi resistance di kisaran 7.022‑7.240. Data dari PT Pilarmas Investindo Sekuritas juga mengindikasikan rentang perdagangan antara 6.870‑7.000, menegaskan potensi melemahnya indeks.

Dalam konteks teknikal, MNC Sekuritas menyoroti empat saham yang berada dalam posisi menguntungkan. PT Bukit Uluwatu Villa Tbk (BUVA) mencatat kenaikan 0,95% ke harga 1.060 rupiah, sementara Herditya menilai BUVA berada di akhir gelombang C dari wave B, memberi sinyal pembelian spesifik. Selain itu, PT Sumber Mineral Global Abadi Tbk (SMGA), PT Saratoga Investama Sedaya Tbk (SRTG), dan PT Bukit Asam Tbk (PTBA) juga termasuk dalam daftar beli, masing‑masing didukung oleh pola harga yang menguat meski tekanan jual masih terasa.

Riset Pilarmas Investindo Sekuritas menambahkan tiga saham potensial: PT Sanurhasta Mitra Tbk (MINA), PT Aneka Tambang Tbk (ANTM), dan PT Pabrik Kertas Tjiwi Kimia Tbk (TKIM). Kedua institusi menekankan pentingnya konfirmasi bullish candle selanjutnya serta volume beli yang dominan untuk memastikan keberlanjutan tren naik pada saham‑saham tersebut.

Di sisi lain, BRI Danareksa Sekuritas lewat analis Reza Diofanda memprediksi IHSG akan bergerak terbatas dalam rentang support 6.920‑7.000 dan resistance 7.100‑7.160. Diofanda menyoroti faktor eksternal seperti pelemahan rupiah yang menembus level Rp17.400 serta penantian data GDP Q1 Indonesia, yang keduanya dapat memicu volatilitas tambahan.

Rekomendasi beli BRI Danareksa mencakup PT Indo Tambangraya Megah Tbk (ITMG) dengan target harga Rp27.025‑27.600 dan stop loss di bawah Rp25.000. Saham PT Minna Padi Investama Sekuritas Tbk (PADI) juga masuk daftar, dengan target Rp130‑139 dan stop loss di bawah Rp115. Selain itu, PT Saratoga Investama Sedaya Tbk (SRTG) kembali direkomendasikan dengan target Rp1.870‑1.960 serta stop loss di bawah Rp1.700. Sementara itu, PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) diberi sinyal jual karena berada dalam tren bearish dan volume jual yang tinggi.

BNI Sekuritas menambahkan bahwa IHSG berpotensi kembali koreksi, mengingat tekanan jual asing mencapai Rp791 miliar pada sesi sebelumnya. Saham-saham yang paling banyak dijual oleh investor asing antara lain BMRI, BBCA, BUMI, BRMS, dan ASII. Fanny Suherman, Head of Retail Research BNI Sekuritas, menegaskan bahwa level support utama berada di 6.850‑6.900 dengan resistance di 7.000‑7.090, dan mengingat potensi rebound teknikal masih memerlukan konfirmasi green candle berikutnya.

Kiwoom Sekuritas Indonesia menilai bahwa meskipun IHSG mendekati level psikologis 7.000, posisi masih spekulatif tinggi. Analisnya menekankan pentingnya volume beli yang mendominasi untuk mengonfirmasi early bullish reversal yang valid.

Selain rekomendasi dari MNC dan BRI, Kiwoom, serta BNI, analis Kiwoom menyoroti saham PT Chandra Daya Investasi Tbk (CDIA), PT AKR Corporindo Tbk (AKRA), PT Energi Mega Persada Tbk (ENRG), PT Buana Lintas Lautan Tbk (BULL), PT Indika Energy Tbk (INDY), dan PT Medco Energi Internasional Tbk (MEDC) sebagai peluang keuntungan. Setiap saham dipilih berdasarkan fundamental yang kuat serta indikator teknikal yang menunjukkan potensi upside dalam minggu mendatang.

Secara keseluruhan, pasar saham hari Selasa diprediksi akan mengalami pergerakan terbatas dengan tekanan jual asing yang masih signifikan. Investor disarankan untuk menyesuaikan portofolio dengan memperhatikan level support‑resistance yang telah disebutkan, serta memperhatikan sinyal teknikal pada saham-saham rekomendasi untuk mengoptimalkan peluang profit.

Disclaimer: Artikel ini bersifat informatif dan tidak merupakan ajakan beli atau jual saham. Keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab pembaca.

Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.