Media Kampung – Pimpinan Komisi V DPR RI menyoroti tabrakan KA KRL yang terjadi di Bekasi Timur pada 27 April 2026, menekankan perlunya evaluasi menyeluruh atas sistem keselamatan perkeretaapian nasional.
Insiden menewaskan 16 penumpang dan melukai puluhan lainnya setelah sebuah taksi listrik mogok di perlintasan sebidang JPL 85, menabrak KRL Commuter Line yang kemudian tertabrak dari belakang oleh KA Argo Bromo Anggrek.
Wakil Ketua Komisi V, Andi Iwan Darmawan Aras menyatakan bahwa kejadian ini tidak sekadar kecelakaan operasional, melainkan indikasi tekanan sistemik pada jalur rel padat di wilayah perkotaan.
"Sistem keselamatan harus mampu mendeteksi, mengisolasi, dan memutus risiko pada gangguan awal," ujar Iwan dalam konferensi pers pada 29 April 2026.
Ia menambahkan bahwa perlintasan sebidang masih menjadi titik rawan dan mendesak pemerintah mempercepat pembangunan flyover atau underpass pada 1.800 titik perlintasan di Jawa.
Anggota DPR PDIP, Mufti Anam menyoroti kemungkinan kegagalan sinyal sebagai penyebab tabrakan, menambahkan bahwa kereta jarak jauh tampaknya tidak menerima sinyal keberadaan KRL di depannya.
"Jika sinyal tidak berfungsi, ini merupakan kegagalan sistem atau bahkan human error," katanya, mengutip standar Automatic Train Protection (ATP) yang telah diterapkan di banyak negara.
Mufti juga menuntut audit independen dan meminta pertanggungjawaban tingkat tertinggi di PT KAI jika terbukti ada kelalaian manusia.
Kementerian Perhubungan melalui Menteri Dudy Purwagandhi mengonfirmasi bahwa penyelidikan awal menunjukkan gangguan pada perlintasan JPL 85 sebagai pemicu pertama.
Penyelidikan Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) masih berlangsung untuk menentukan penyebab pasti, baik dari sisi sinyal, prosedur operasional, maupun faktor manusia.
Para pakar transportasi menilai bahwa pemisahan jalur operasional antara KRL dan kereta jarak jauh menjadi prioritas, mengingat perbedaan karakteristik kecepatan dan frekuensi layanan.
Proyek Double-Double Track Jakarta‑Cikarang, yang tengah dikerjakan, diharapkan selesai pada akhir 2027 untuk meningkatkan kapasitas sekaligus memperkuat keselamatan.
Selain infrastruktur fisik, integrasi pusat kendali jalur menjadi fokus, dengan harapan data real‑time dapat mengoordinasikan layanan berbeda secara sinergis.
PT KAI telah mengeluarkan permohonan maaf publik dan membuka posko bantuan bagi korban serta keluarga yang terdampak.
Rumah sakit di Bekasi melaporkan 14 korban meninggal dan 84 luka-luka yang sedang dirawat, sementara evakuasi gerbong masih berlangsung.
Seluruh pihak menegaskan komitmen untuk mempercepat implementasi sistem pengaman digital dan menutup semua perlintasan sebidang ilegal.
Kondisi stasiun Bekasi Timur saat ini telah dipulihkan, namun layanan komuter masih mengalami penyesuaian jadwal hingga akhir minggu.
Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.







Tinggalkan Balasan