Media Kampung – 17 April 2026 | Eks pemain Persebaya Surabaya, George Brown, mengungkapkan kondisi krisis yang melanda PSPS Biak dalam sebuah wawancara eksklusif, menyoroti gaji yang mandek, pengusiran dari mess, dan terhentinya latihan tim.

Menurut pernyataan Brown, keterlambatan pembayaran gaji telah berlangsung selama dua hingga tiga bulan, menimbulkan beban finansial berat bagi pemain dan staf yang masih menunggu hak mereka.

Surat resmi yang diterima oleh media lokal mencantumkan keluhan sejumlah pemain dan staf yang belum menerima upah sejak pertengahan Januari 2026, sekaligus menuntut intervensi pihak berwenang.

Brown menambahkan bahwa fasilitas dasar tim juga terganggu, mulai dari ketersediaan air minum setelah sesi latihan hingga pemenuhan kebutuhan makanan di mess pemain lokal.

Penghentian penggunaan kendaraan tim, yang sebelumnya menjadi sarana transportasi resmi, juga menjadi konsekuensi langsung dari krisis keuangan yang belum terselesaikan.

Selain masalah logistik, pemain asing PSBS Biak menerima surat pengosongan apartemen karena tunggakan sewa yang belum dibayar oleh klub, memaksa mereka mencari tempat tinggal alternatif.

Brown mengaku bahwa situasi ini menambah tekanan mental pada para pemain menjelang pertandingan penting melawan Persija Jakarta pada Sabtu, 18 April 2026.

“Kami belum tahu kapan latihan dapat dilanjutkan, lapangan belum dibayar sehingga tidak dapat dipakai, dan kami harus bersaing tanpa persiapan yang memadai,” ujar Brown kepada JawaPos.com pada Kamis, 16 April 2026.

Tim teknis PSBS Biak mengonfirmasi bahwa lapangan latihan tidak dapat diakses karena tagihan sewa belum dilunasi, sehingga pelatihan rutin terpaksa dibatalkan.

Kondisi ini berdampak langsung pada kebugaran fisik pemain, mengingat kurangnya sesi latihan mengurangi kemampuan tim untuk mempertahankan taktik dan stamina.

Pihak manajemen klub belum memberikan komentar resmi mengenai penyebab keterlambatan pembayaran, namun sumber internal menyebutkan penurunan sponsor dan pendapatan tiket sebagai faktor utama.

Pengamat sepak bola menilai bahwa krisis keuangan ini dapat mempengaruhi posisi PSBS Biak di klasemen Liga 2, mengingat performa tim berpotensi menurun tanpa dukungan logistik yang memadai.

Beberapa mantan pemain lain yang pernah bergabung dengan PSBS Biak juga menyampaikan pengalaman serupa, menegaskan bahwa masalah finansial telah berlangsung sejak awal musim 2025/2026.

Dalam konteks lebih luas, krisis PSBS Biak mencerminkan tantangan keuangan yang dihadapi klub-klub sepak bola tingkat menengah di Indonesia, terutama yang bergantung pada sponsor regional.

Asosiasi Sepak Bola Indonesia (PSSI) dijadwalkan mengadakan rapat darurat pada akhir pekan ini untuk membahas langkah penanganan klub-klub yang mengalami kesulitan finansial.

Brown menyatakan kesiapan dirinya dan rekan-rekannya untuk tetap berkompetisi, meski kondisi belum ideal, dengan harapan bantuan pihak berwenang dapat segera mengatasi masalah.

“Kami tetap profesional dan berharap klub dapat menyelesaikan kewajiban demi kelangsungan tim,” tambahnya dalam pernyataan tertulis.

Pemain lokal PSBS Biak juga melaporkan penurunan moral tim akibat ketidakpastian gaji, yang berpotensi mengganggu konsentrasi selama pertandingan.

Meski demikian, pelatih kepala klub menegaskan bahwa strategi taktik tetap akan diimplementasikan, mengandalkan motivasi internal untuk mengatasi keterbatasan fasilitas.

Situasi terkini menunjukkan bahwa klub sedang bernegosiasi dengan beberapa sponsor baru untuk menutup defisit anggaran, dengan target penyelesaian sebelum pertandingan berikutnya pada akhir April 2026.

Jika upaya tersebut berhasil, diharapkan latihan dapat dilanjutkan dan pemain dapat kembali mengakses fasilitas mess serta transportasi resmi klub.

Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.