Media Kampung – Bagi masyarakat luar Bali, melihat jajan laklak seringkali langsung disamakan dengan serabi. Bentuknya yang bulat dan cara memasaknya di atas tungku tanah liat memang sekilas mirip. Namun, menurut Komang Suratmi, pemilik Warung Lunglung di Banyuning, Buleleng, kedua panganan ini memiliki perbedaan mendasar yang patut diketahui.

Perbedaan Bahan dan Tekstur

Laklak Buleleng dibuat dari tepung beras, air, sedikit garam, dan pewarna hijau alami dari daun suji atau pandan. Adonannya tidak menggunakan santan maupun ragi, sehingga teksturnya lebih padat namun tetap kenyal, dengan bagian bawah yang renyah (crispy). Sebaliknya, serabi Nusantara menggunakan tepung beras, santan kelapa, dan gula, serta kadang ragi, sehingga teksturnya lebih lembut, empuk, dan berserat atau berpori di bagian tengah.

Topping dan Cara Penyajian

Laklak disajikan dengan taburan kelapa parut segar dan siraman gula merah cair yang kental. Sementara serabi biasanya dimasak langsung dengan santan atau disiram kuah kinca manis, bahkan ada varian dengan durian. Perbedaan ini menciptakan profil rasa yang khas masing-masing.

Menjaga Tradisi Turun-Temurun

Komang Suratmi menegaskan pentingnya mempertahankan resep asli laklak yang diwariskan dari kakek neneknya. Ia masih menggunakan paon (tungku tradisional) untuk menjaga suhu dan cita rasa autentik. “Saya bikin Jajan Laklak ini sudah turun temurun resepnya dari kakek nenek, nurun ke orang tua, sekarang saya yang melanjutkan. Menjaga komposisi bahannya biar sesuai dan tetap jadi ciri khas laklak khas Bali,” jelasnya dalam program Obrolan Budaya RRI Net, Selasa, 23 Juni 2026.

Varian Laklak: Gula Sisi dan Gula Tengah

Menurut Komang, ada dua varian laklak yang dikenal: Laklak Gula Sisi dan Laklak Gula Tengah. Keduanya memiliki cita rasa khas kue Bali yang sama-sama digemari. Varian ini menunjukkan kekayaan variasi dalam satu jenis jajanan tradisional.

Warisan Budaya yang Perlu Dilestarikan

Melalui obrolan budaya tersebut, diharapkan generasi muda tidak hanya menikmati laklak sebagai camilan, tetapi juga memahami nilai budayanya. Perbedaan antara laklak dan serabi justru memperkaya khazanah kuliner Nusantara, membuktikan bahwa dengan bahan yang mirip, setiap daerah mampu menciptakan cita rasa yang unik dan berkarakter.

Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.