Media Kampung – Remaja berusia 13 tahun menembak dua staf sekolah di Rio Branco, Acre, Brasil, pada Selasa 5 Mei 2026, menewaskan mereka dan melukai dua orang lainnya termasuk seorang siswi berusia 11 tahun.
Siswa-siswa SMP San Jose Institute berlari ke atap untuk menghindari tembakan, sementara pelaku meluncurkan serangan di lorong menuju ruang kepala sekolah.
Setelah menembakkan senjata, pelaku menyerahkan diri kepada petugas keamanan yang berada di lokasi.
Ayah pelaku, yang merupakan pemilik senjata yang digunakan, juga ditangkap tak lama setelah peristiwa terjadi.
Pihak berwenang menyatakan bahwa senjata api tersebut berasal dari koleksi pribadi sang ayah, menambah dimensi masalah kepemilikan senjata di rumah tangga.
Korban luka lainnya termasuk seorang siswi perempuan berusia 11 tahun yang mengalami cedera pada bagian kaki.
Pihak rumah sakit setempat melaporkan bahwa korban tersebut berada dalam kondisi stabil setelah menerima perawatan awal.
Penembakan ini menambah daftar panjang insiden kekerasan di institusi pendidikan Brasil yang mengalami kenaikan tajam dalam beberapa tahun terakhir.
Pada September 2025, dua remaja tewas dalam penembakan di sebuah sekolah, menandai salah satu episode paling mematikan dalam sejarah pendidikan Brasil.
Sebelumnya, pada Oktober 2023, sebuah insiden serupa terjadi di São Paulo, menewaskan seorang remaja berusia 17 tahun.
Data resmi dari Kementerian Pendidikan Brasil mengindikasikan bahwa sejak 2022 terjadi peningkatan 27 % pada jumlah kasus kekerasan bersenjata di sekolah.
Para ahli keamanan publik menyoroti bahwa akses mudah ke senjata api serta kurangnya pengawasan psikologis pada anak-anak menjadi faktor utama.
Pejabat kepolisian menegaskan bahwa penyelidikan akan difokuskan pada jaringan penyimpanan senjata di rumah tangga pelaku.
Wali kota Rio Branco, Maria de Souza, menyampaikan rasa duka yang mendalam dan berjanji akan meningkatkan keamanan di semua institusi pendidikan kota.
Dia menambahkan bahwa otoritas akan memperketat prosedur pemeriksaan latar belakang bagi pemilik senjata api.
Serikat guru nasional menuntut pemerintah federal untuk mengeluarkan regulasi yang lebih ketat terkait penjualan dan penyimpanan senjata api.
Mereka juga menuntut program pendampingan psikologis bagi siswa yang terpapar trauma akibat insiden kekerasan.
Pemerintah negara bagian Acre mengumumkan bahwa semua sekolah akan dipasangi kamera pengawas tambahan dalam tiga bulan ke depan.
Langkah ini diharapkan dapat mempercepat respons keamanan bila terjadi ancaman serupa di masa mendatang.
Penelitian yang dilakukan oleh Universitas Federal Acre menunjukkan bahwa sebagian besar pelaku penembakan sekolah memiliki riwayat konflik keluarga atau akses tidak terkontrol ke senjata.
Kasus ini menegaskan perlunya intervensi dini pada keluarga yang mengalami masalah kekerasan atau penyalahgunaan senjata.
Organisasi hak asasi manusia internasional, Human Rights Watch, menyatakan keprihatinan mendalam atas tren kekerasan terhadap anak di Brasil.
Mereka menyerukan pemerintah Brasil untuk meninjau kebijakan senjata api serta memperkuat program kesehatan mental di sekolah.
Di sisi lain, komunitas lokal menggalang dana untuk membantu keluarga korban staf yang tewas dalam tragedi ini.
Penggalangan dana tersebut diharapkan dapat menutupi biaya pemakaman serta memberikan dukungan finansial jangka pendek.
Sementara penyelidikan masih berlangsung, polisi mengidentifikasi bahwa senjata yang digunakan adalah pistol kaliber kecil, biasanya dipakai untuk pertahanan pribadi.
Penegak hukum menegaskan bahwa tidak ada jaringan terorganisir yang terdeteksi di balik serangan ini.
Kasus ini menimbulkan pertanyaan mendalam tentang peran orang tua dalam mengawasi kepemilikan senjata di rumah.
Kepolisian akan menambah unit khusus yang fokus pada pencegahan kekerasan berbasis senjata di kalangan remaja.
Jika kebijakan baru diterapkan, diharapkan angka penembakan di sekolah dapat menurun signifikan dalam beberapa tahun ke depan.
Kasus penembakan ini menandai kembali urgensi reformasi kebijakan senjata api di Brasil.
Pihak berwenang berkomitmen untuk menindak tegas setiap pelanggaran dan meningkatkan rasa aman bagi siswa, guru, dan staf pendidikan.
Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.







Tinggalkan Balasan