Media Kampung – Terapi cahaya merah telah menjadi standar emas dalam perawatan kulit dan kebugaran, namun kini muncul alternatif lain yang mulai menarik perhatian: terapi cahaya hijau. Berbeda dengan cahaya merah yang dikenal untuk stimulasi kolagen dan efek anti-aging, cahaya hijau diklaim memiliki potensi dalam mengatur produksi pigmen berlebih dan meningkatkan kejernihan kulit secara keseluruhan. Tidak hanya itu, terapi ini juga menjanjikan manfaat untuk migrain, nyeri kronis, dan kualitas tidur.

Apa Itu Terapi Cahaya Hijau?

Terapi cahaya hijau merupakan bentuk LED photobiomodulation yang menggunakan cahaya tampak dalam spektrum hijau, umumnya pada panjang gelombang 520 hingga 560 nanometer. Sebagian besar perangkat beroperasi di kisaran 525 hingga 540 nanometer. Sama seperti terapi LED lainnya, metode ini bekerja dengan mengantarkan energi cahaya ke kulit tanpa menimbulkan panas berlebih atau kerusakan jaringan.

Menurut dermatolog Shereen Teymour, terapi cahaya hijau membantu meningkatkan kejernihan kulit dengan menargetkan hiperpigmentasi, bintik penuaan, rosacea, kemerahan, warna kulit tidak merata, hingga pembuluh kapiler yang tampak di permukaan kulit. Pada tingkat seluler, cahaya hijau mendukung fungsi mitokondria, memberikan dorongan energi bagi sel untuk mempercepat perbaikan jaringan sekaligus mengurangi peradangan.

Manfaat Terapi Cahaya Hijau

Kesehatan Kulit

Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa terapi cahaya hijau dapat membantu mengurangi tampilan hiperpigmentasi, kemerahan, dan warna kulit tidak merata. Terapi ini bekerja dengan menargetkan melanosit, sel yang bertanggung jawab memproduksi melanin, untuk membantu memudarkan noda gelap. Selain itu, cahaya hijau juga dapat menurunkan kadar sitokin yang berperan dalam proses peradangan, sehingga berpotensi menenangkan kondisi seperti eksim, rosacea, dan pembuluh kapiler yang tampak.

Dermatolog memandang terapi cahaya hijau sebagai pelengkap perawatan lain yang mendukung kualitas dan kilau kulit secara keseluruhan, bukan solusi korektif tunggal dengan hasil dramatis. Pasien sering melaporkan kulit tampak lebih cerah, tenang, dan merata seiring waktu, meskipun bukti ilmiahnya belum sekuat terapi cahaya merah.

Meredakan Sakit Kepala dan Migrain

Penelitian dari University of Arizona menemukan bahwa paparan terapi cahaya hijau secara konsisten dapat secara signifikan mengurangi frekuensi dan intensitas sakit kepala. Banyak pasien kronis mengalami penurunan jumlah hari sakit kepala hingga 50 persen atau lebih. Peserta penelitian juga mampu mengurangi penggunaan obat-obatan. Namun, hasilnya tidak instan; manfaat mulai terlihat setelah sekitar 10 minggu penggunaan setiap hari. Dokter Sherly Soleiman menegaskan bahwa terapi ini sebaiknya dianggap sebagai pelengkap, bukan pengobatan utama, dan konsultasi dengan dokter atau ahli saraf disarankan sebelum memulai.

Mengelola Nyeri Kronis

Penggunaan terapi cahaya hijau untuk membantu mengelola nyeri kronis, termasuk fibromyalgia dan nyeri neuropatik, menunjukkan hasil yang menjanjikan. Terapi ini diyakini dapat meredakan nyeri dengan meningkatkan produksi zat pereda nyeri alami dalam tubuh dan mengurangi kecemasan yang menyertai kondisi nyeri kronis. Uji klinis berskala lebih besar masih diperlukan untuk memperkuat temuan ini.

Kualitas Tidur

Studi akademis menunjukkan bahwa cahaya hijau dapat memengaruhi produksi melatonin. Paparan cahaya hijau pada siang hari berpotensi mendukung regulasi ritme sirkadian yang sehat. Namun, karena panjang gelombangnya dapat menekan produksi melatonin, penggunaan pada malam hari justru kontraproduktif. Waktu penggunaan menjadi faktor penting. Literatur ilmiah merekomendasikan sesi harian selama satu hingga dua jam, dengan cahaya dilihat secara tidak langsung di ruangan redup. Hasil mulai terlihat setelah delapan hingga sepuluh minggu penggunaan rutin.

Perbedaan dengan Terapi Cahaya Merah

Perbedaan utama terletak pada panjang gelombang. Terapi cahaya merah memiliki dukungan bukti ilmiah yang jauh lebih kuat untuk stimulasi kolagen, penyembuhan luka, pengurangan peradangan, dan peremajaan kulit secara keseluruhan. Cahaya merah mampu menembus lapisan kulit yang lebih dalam. Sebaliknya, cahaya hijau bekerja lebih superfisial dan sebagian besar diteliti untuk masalah kulit permukaan seperti pigmentasi dan warna kulit tidak merata. Jika cahaya merah identik dengan anti-aging, cahaya hijau lebih terkait dengan perbaikan tampilan kulit dan peningkatan kejernihan complexion. Keduanya dapat saling melengkapi dan memberikan hasil lebih komprehensif jika digunakan bersamaan. Terapi cahaya hijau juga cenderung lebih lembut, sehingga lebih mudah ditoleransi oleh pemilik kulit sensitif.

Frekuensi Penggunaan dan Efek Samping

Sebagian besar perangkat di rumah merekomendasikan penggunaan tiga hingga lima kali per minggu, dengan durasi 10 hingga 20 menit per sesi. Hasil optimal mulai terlihat setelah empat hingga enam minggu penggunaan konsisten. Efek samping jarang terjadi, namun dapat berupa kemerahan atau iritasi ringan sementara. Terapi ini tidak disarankan bagi individu dengan gangguan fotosensitivitas atau yang sedang mengonsumsi obat peningkat sensitivitas cahaya. Mereka yang memiliki riwayat migrain dipicu cahaya sebaiknya berkonsultasi dengan dokter terlebih dahulu.

Terapi cahaya hijau kini semakin mudah diakses karena banyak perangkat LED terbaik telah menggabungkan beberapa panjang gelombang cahaya dalam satu alat. Meskipun masih underrated, terapi ini layak dipertimbangkan sebagai tambahan dalam rutinitas wellness sehari-hari.

Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.