Media Kampung – Diabetes kini banyak menyerang anak dan usia produktif di Banten, bergeser dari anggapan sebelumnya sebagai penyakit lansia. Data Dinas Kesehatan Provinsi Banten per 10 Juni 2026 mencatat total 94.607 kasus diabetes melitus. Dari jumlah tersebut, 69.809 kasus (73,8%) terjadi pada kelompok usia 15–59 tahun, sementara 22.905 kasus pada usia di atas 60 tahun. Yang memprihatinkan, kasus pada anak-anak juga signifikan: 241 kasus pada usia 1–5 tahun, 1.651 kasus pada usia 6–14 tahun, dan bahkan satu kasus pada bayi di bawah satu tahun.

Faktor Pemicu Diabetes pada Usia Muda

Ketua Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam Indonesia (PAPDI) Banten, dr. Ahmad Mekkah, Sp.PD, mengidentifikasi beberapa faktor utama. Kombinasi obesitas sentral, pola makan tinggi gula dan kalori, serta rendahnya aktivitas fisik menjadi penyebab utama. “Banyak kasus muncul 10–20 tahun lebih awal dibandingkan generasi sebelumnya,” ujarnya kepada Media Kampung, Kamis (18/6/2026).

Pola Makan dan Gaya Hidup Urban

Urbanisasi dan perubahan gaya hidup turut memperparah situasi. Masyarakat perkotaan di Banten cenderung mengonsumsi minuman berpemanis, kopi dengan gula tambahan, teh manis, makanan cepat saji, dan makanan olahan. Aktivitas fisik justru menurun karena banyak pekerja menghabiskan waktu duduk di depan komputer atau saat berkendara. Kurangnya gerak membuat otot tidak efektif menyerap glukosa, sehingga kadar gula darah mudah naik.

Obesitas pada Anak dan Remaja

Angka obesitas pada usia muda terus meningkat. Anak-anak lebih sering mengonsumsi minuman berpemanis dan menghabiskan waktu dengan gawai dibandingkan aktivitas fisik. Hal ini memicu resistensi insulin lebih awal. Banyak orang mengalami prediabetes sejak usia 20–30 tahun, dan tanpa perubahan gaya hidup, berkembang menjadi diabetes di usia 30–40 tahun.

Gejala yang Sering Terlewat

Diagnosis sering terlambat karena gejala awal dianggap sepele. Pada anak-anak, tanda seperti sering haus, sering buang air kecil, berat badan turun tanpa sebab, mudah lapar, dan mudah lelah kerap diabaikan. Pada usia produktif, gejala seperti cepat lelah, mengantuk setelah makan, sering buang air kecil malam hari, kesemutan, penglihatan kabur, dan luka sulit sembuh sering disalahartikan sebagai kurang tidur atau stres.

Langkah Pencegahan

Pencegahan diabetes perlu dimulai dari lingkungan keluarga: batasi konsumsi minuman manis dan makanan ultra-proses, biasakan aktivitas fisik, dan jaga berat badan ideal. Sekolah sebaiknya memperkuat pendidikan gizi dan menyediakan kantin sehat. Di tingkat kebijakan, perlu edukasi publik, skrining dini, dan pengendalian konsumsi minuman berpemanis. “Perbaiki label nutrisi agar mudah dipahami masyarakat,” tambah dr. Ahmad.

Faktor keturunan juga tidak bisa diabaikan. Risiko lebih tinggi pada mereka yang memiliki orang tua atau saudara kandung penderita diabetes, terutama jika disertai kebiasaan hidup tidak sehat. Kurang tidur (kurang dari 6 jam per malam) dan stres kronis juga berkontribusi meningkatkan resistensi insulin dan kadar gula darah.

Dengan meningkatnya kasus pada usia produktif dan anak-anak, kesadaran akan pentingnya deteksi dini dan perubahan gaya hidup menjadi kunci untuk menekan angka diabetes di Banten.

Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.