Media Kampung – Wakil Menteri Kesehatan Dante Saksono menegaskan bahwa filosofi dari ‘Rumoh Aceh’ memiliki keselarasan dengan pentingnya perlindungan melalui imunisasi anak. Ia menjelaskan bahwa seperti halnya ‘Rumoh Aceh’ yang dirancang sebagai bangunan kuat untuk melindungi penghuninya dari berbagai ancaman, imunisasi pun berfungsi sebagai perlindungan utama bagi anak-anak terhadap penyakit yang dapat dicegah.

Pernyataan tersebut disampaikan Dante saat memberikan sambutan pada kegiatan Kunjungan Lapangan Tematik dan Media Briefing bertajuk ‘Mengejar Anak Zero Dose’ yang berlangsung di Banda Aceh pada Jumat, 22 Mei 2026. Ia menegaskan bahwa imunisasi berperan sebagai ‘tentara’ yang menjaga anak-anak dari risiko penyakit serius yang bisa berujung pada kelumpuhan bahkan kematian jika tidak mendapatkan vaksinasi lengkap sejak dini.

Dante mengingatkan bahwa anak yang tidak menerima imunisasi berpotensi menghadapi risiko tinggi terkena penyakit menular yang berbahaya. Ia menjelaskan bahwa tanpa imunisasi, ancaman infeksi virus, bakteri, dan kejadian luar biasa (KLB) dapat terjadi, padahal kondisi tersebut sebenarnya dapat dicegah melalui imunisasi rutin sejak usia dini.

Lebih lanjut, Wamenkes mengaitkan semangat imunisasi dengan peringatan Hari Kebangkitan Nasional pada Rabu, 20 Mei 2026. Menurutnya, tema menjaga tunas bangsa sejalan dengan upaya memperkuat perlindungan kesehatan anak Indonesia agar generasi muda dapat tumbuh sehat dan kuat.

Sebagai bagian dari gerakan imunisasi nasional, Dante mengajak masyarakat Aceh untuk memanfaatkan momentum tersebut guna menghapus angka zero dose imunisasi, yang berarti anak-anak yang belum menerima vaksin dasar sama sekali, secara bertahap demi masa depan yang lebih sehat.

Sementara itu, Wali Kota Banda Aceh Illiza Sa’aduddin Djamal mengungkapkan bahwa capaian imunisasi dasar lengkap di kota tersebut masih rendah. Pada tahun 2025, angka cakupan imunisasi dasar lengkap baru mencapai 34 persen, menunjukkan masih banyak anak yang belum mendapatkan perlindungan dasar dari penyakit berbahaya.

Illiza menambahkan bahwa sebanyak 63 persen anak di Banda Aceh masih berstatus zero dose, yang berisiko meningkatkan penyebaran penyakit menular di masyarakat. Data pemerintah juga mencatat adanya 119 kasus campak yang disertai pertusis atau batuk rejan, serta lebih dari 1.600 kasus tuberkulosis dalam periode terakhir.

Untuk mengatasi hal ini, Pemerintah Kota Banda Aceh terus memperkuat layanan kesehatan primer melalui Puskesmas dan Posyandu agar masyarakat mudah mengakses imunisasi. Pendataan sasaran vaksinasi dilakukan hingga tingkat gampong dengan metode ‘by name by address’ untuk memastikan cakupan imunisasi meningkat secara menyeluruh.

Dengan langkah tersebut, diharapkan perlindungan kesehatan anak di Banda Aceh dapat semakin kuat, menurunkan risiko penyakit menular, serta mendukung generasi mendatang yang lebih sehat dan produktif.

Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.