Media Kampung – Wabah virus Ebola kembali muncul di Provinsi Ituri, Republik Demokratik Kongo (RD Kongo), dengan laporan kematian mencapai 65 jiwa dari 246 kasus suspek yang tercatat. Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Kesehatan (Kemenkes) meningkatkan kewaspadaan guna mencegah penyebaran penyakit mematikan ini ke dalam negeri.
Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Afrika mengonfirmasi wabah Ebola yang terjadi di wilayah terpencil Provinsi Ituri tersebut. Empat orang telah dipastikan positif melalui pemeriksaan laboratorium, sementara puluhan lainnya masih dalam pengawasan. Kasus ini muncul hanya beberapa bulan setelah wabah Ebola sebelumnya di wilayah tersebut dinyatakan selesai, yang menewaskan 43 orang.
Kemenkes memastikan hingga kini belum ditemukan kasus Ebola di Indonesia, tetapi mereka terus memantau perkembangan global dan memperkuat sistem kesehatan nasional. Kepala Biro Komunikasi dan Informasi Publik Kemenkes, Aji Muhawarman, menyatakan bahwa pemerintah melakukan pengawasan ketat terhadap pelaku perjalanan internasional di pintu masuk negara dengan thermal scanner dan aplikasi pemantauan. Selain itu, Kemenkes menyiapkan 198 rumah sakit rujukan untuk penanganan penyakit infeksi emerging, termasuk Ebola.
Langkah lain yang ditempuh adalah memperkuat surveilans penyakit di 21 rumah sakit di 20 provinsi serta memperkuat koordinasi dengan World Health Organization (WHO). Kemenkes juga menyediakan pedoman kesiapsiagaan dan surat edaran kewaspadaan kepada fasilitas kesehatan dan laboratorium kesehatan masyarakat. Komunikasi risiko kepada masyarakat terus digencarkan melalui media edukasi dan leaflet.
WHO telah menetapkan wabah Ebola di Kongo dan Uganda sebagai darurat kesehatan masyarakat global karena risiko penyebaran lintas negara yang tinggi. Hingga pertengahan Mei 2026, delapan kasus Ebola telah dikonfirmasi secara laboratorium di Provinsi Ituri, dengan tambahan dua kasus di Uganda yang berasal dari perjalanan dari Kongo.
Direktur Jenderal WHO, Tedros Adhanom Ghebreyesus, menegaskan bahwa tim WHO sudah berada di lokasi wabah sejak awal Mei untuk membantu investigasi dan penanganan. Virus Bundibugyo yang menjadi penyebab wabah ini belum memiliki vaksin atau terapi khusus, sehingga pengendalian wabah menjadi lebih sulit. Kondisi keamanan dan infrastruktur yang buruk di wilayah terdampak juga memperumit upaya penanganan.
Kemenkes mengimbau masyarakat untuk tetap menerapkan protokol kesehatan, seperti mencuci tangan dengan sabun, memakai masker bila sakit, dan menghindari kontak dengan orang atau hewan terinfeksi. Masyarakat yang melakukan perjalanan ke daerah terdampak juga diminta mengikuti protokol kesehatan setempat untuk mencegah penularan.
Situasi wabah Ebola di Kongo masih terus dipantau ketat oleh otoritas kesehatan internasional dan nasional. Upaya pencegahan serta kesiapsiagaan di Indonesia menjadi langkah penting untuk mengantisipasi kemungkinan masuknya virus yang sangat berbahaya ini.
Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.







Tinggalkan Balasan