Media Kampung – Hari Asma Sedunia diperingati pada 5 Mei 2026 dengan menekankan pentingnya penanganan asma pada anak, termasuk pemilihan makanan yang tepat. Pemerintah dan komunitas kesehatan menekankan bahwa pola makan dapat memengaruhi frekuensi dan keparahan serangan asma.
Data dari HaiBunda menunjukkan bahwa meskipun makanan bukan penyebab utama asma, alergi makanan dapat memperburuk gejala pernapasan pada anak. Oleh karena itu, identifikasi alergi makanan menjadi langkah awal yang krusial bagi orang tua.
Menurut laporan, kacang-kacangan, khususnya kacang tanah, termasuk makanan yang dapat memicu reaksi alergi pada sebagian anak. “Kacang tanah dapat memicu reaksi alergi pada anak dengan asma,” kata ahli alergi yang dikutip dalam artikel HaiBunda.
Kacang tanah sering menyebabkan reaksi dari ringan hingga berat, bahkan anafilaksis, terutama pada anak yang memiliki riwayat alergi keluarga. Karena itu, orang tua disarankan untuk mengawasi konsumsi kacang pada anak yang belum diuji alergi.
Susu sapi juga masuk dalam daftar alergen utama pada bayi dan anak kecil. “Susu sapi termasuk salah satu alergen yang paling sering ditemukan pada bayi dan anak kecil,” tertulis dalam sumber tersebut.
Alergi susu dapat muncul dalam berbagai bentuk, mulai dari gejala kulit hingga gangguan pernapasan, tergantung pada respons imun IgE atau non‑IgE. Beberapa anak dapat mengatasi alergi susu seiring bertambahnya usia, namun pemantauan tetap diperlukan.
Telur menjadi pemicu alergi lain yang harus diwaspadai. Anak sensitif terhadap telur sebaiknya menghindari semua produk yang mengandung telur, termasuk kue, mayones, dan saus.
Gandum dan gluten juga dapat memperburuk kondisi asma pada anak yang memiliki sensitivitas terhadap gluten. Mengganti roti putih dengan varian bebas gluten dapat membantu mengurangi iritasi saluran napas.
Pemanis buatan, seperti aspartam dan sakarin, disebutkan dapat memicu peradangan pada tubuh, yang pada gilirannya dapat memengaruhi asma. Mengurangi konsumsi minuman ringan dan makanan olahan yang mengandung pemanis ini dianjurkan.
Daging olahan, termasuk sosis dan nugget, mengandung nitrat dan bahan pengawet yang dapat meningkatkan respons inflamasi pada saluran napas. Pilihan protein segar seperti ikan atau ayam tanpa kulit lebih disarankan.
Kafein, yang terdapat dalam kopi, teh hitam, dan minuman energi, dapat menyebabkan bronkokonstriksi pada anak dengan asma. Oleh karena itu, konsumsi minuman berkafein sebaiknya dibatasi.
Para ahli menekankan pentingnya konsultasi dengan dokter anak atau ahli alergi sebelum melakukan perubahan diet signifikan. Pengujian alergi makanan dapat memastikan makanan mana yang aman bagi setiap anak.
Dengan menghindari makanan yang berpotensi memicu alergi, orang tua dapat membantu mengurangi frekuensi serangan asma dan meningkatkan kualitas hidup anak. Hari Asma Sedunia 2026 menjadi momentum untuk edukasi gizi yang tepat bagi keluarga yang berhadapan dengan asma.
Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.






Tinggalkan Balasan