Media Kampung – Serangan Israel di Lebanon menewaskan 12 orang dalam satu serangan terbaru, menaikkan total korban tewas menjadi 2.600 sejak Maret 2026, meski gencatan senjata masih berlaku.

Sabtu 2 Mei 2026, unit udara Israel melancarkan serangan di wilayah Habboush, selatan Lebanon, menumbangkan delapan jiwa, termasuk seorang anak, serta menimbulkan luka-luka pada warga sipil.

Empat korban tambahan dilaporkan tewas di sekitar Tyre dan Nabatieh, menegaskan bahwa serangan menyebar ke beberapa titik strategis di selatan Lebanon.

Tim penyelamat segera dikerahkan untuk mengevakuasi korban dari puing bangunan yang hancur, sementara pemulihan infrastruktur sipil masih dalam tahap awal.

Israel menyatakan, “Operasi militer ini ditujukan kepada kelompok bersenjata Hizbullah yang berada di wilayah tersebut,” menegaskan fokus serangan pada target militer.

Kementerian Kesehatan Lebanon mencatat total 2.600 orang tewas dan lebih dari 8.200 luka-luka sejak 2 Maret, menambah beban sistem kesehatan yang sudah tertekan.

Gencatan senjata sepuluh hari yang diumumkan 17 April dan diperpanjang hingga pertengahan Mei tidak menghentikan pelanggaran, sehingga bentrokan terus berlanjut.

Lebih dari satu juta warga Lebanon mengungsi akibat konflik, sebagian mulai kembali ke rumah meski ancaman serangan masih mengintai.

China melalui utusan di PBB menilai tidak ada gencatan senjata nyata di Lebanon, dan menyerukan Israel untuk menghentikan pemboman secara segera.

Badan bantuan kemanusiaan memperingatkan kebutuhan mendesak akan layanan medis, suplai makanan, dan tempat penampungan bagi penduduk yang terdampak.

Militer Israel mengeluarkan peringatan evakuasi untuk 12 desa, meminta warga menjauh setidaknya satu kilometer dari zona operasional.

Situasi di perbatasan Lebanon‑Israel tetap tegang, dengan komunitas internasional menunggu langkah diplomatik yang dapat meredam eskalasi lebih lanjut.

Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.