Media Kampung – Ketegangan antara Amerika Serikat dan Jerman memuncak setelah Presiden Donald Trump menyatakan kemungkinan penarikan pasukan AS sebanyak 5.000 personel dari Jerman dalam jangka waktu satu tahun.
Keputusan ini diambil setelah Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth menginstruksikan Pentagon untuk memulai proses penarikan secara bertahap, dengan target penyelesaian antara enam hingga dua belas bulan.
Juru bicara Pentagon Sean Parnell menegaskan bahwa langkah tersebut merupakan hasil evaluasi menyeluruh terhadap postur militer Amerika di Eropa serta kebutuhan operasional di lapangan.
Penarikan pasukan terjadi di tengah kritik tajam Trump terhadap Kanselir Jerman Friedrich Merz, yang dalam beberapa pernyataan menganggap kebijakan Iran tidak perlu dikhawatirkan dan menilai Amerika “dipermalukan” oleh Tehran.
Trump menanggapi dengan menyebut Merz tidak mengerti situasi, menuduhnya mengabaikan ancaman nuklir Iran dan menegaskan bahwa Amerika tidak akan mentolerir sikap pasif sekutu NATO.
Data Pentagon menunjukkan hingga akhir 2025 terdapat 36.436 tentara AS di Jerman, 12.662 di Italia, dan 3.814 di Spanyol, menjadikan Jerman pangkalan terbesar di Eropa.
Menteri Luar Negeri Jerman Johann Wadephul menyatakan kesiapan Jerman menghadapi pengurangan pasukan, sambil menekankan bahwa pangkalan strategis seperti Ramstein Air Base tidak akan terpengaruh karena peran vitalnya bagi kedua negara.
Ramstein, yang berfungsi sebagai hub logistik dan titik kontrol udara, tetap menjadi aset tak tergantikan bagi operasi militer AS di wilayah Eropa dan Timur Tengah.
Uni Eropa menegaskan pentingnya kehadiran militer AS sebagai elemen kunci dalam menjaga keamanan kawasan, meski hubungan transatlantik kini mengalami tekanan signifikan.
Selain Jerman, Trump juga mengkritik Italia dan Spanyol, menyebut kedua negara tidak memberikan dukungan yang memadai selama konflik Iran, dan membuka peluang penarikan pasukan dari kedua negara tersebut.
Perdana Menteri Italia Giorgia Meloni menolak tuduhan tersebut, menyatakan tidak ada dasar kuat untuk mengurangi kehadiran militer AS di tanah Italia.
Di Spanyol, Perdana Menteri Pedro Sánchez menegaskan komitmen negara terhadap aliansi NATO, meski menolak penggunaan pangkalan Spanyol untuk operasi yang tidak disetujui secara nasional.
Para analis militer memperingatkan bahwa penarikan 5.000 personel dalam waktu singkat dapat menurunkan kemampuan respons cepat AS terhadap krisis di Eropa dan Timur Tengah, serta meningkatkan beban logistik pada pangkalan yang tetap beroperasi.
Jika penarikan dilaksanakan, biaya relokasi, pelatihan ulang, dan penyesuaian infrastruktur diperkirakan mencapai miliaran dolar dan memerlukan waktu bertahun-tahun.
Sementara itu, Washington berupaya menyeimbangkan tekanan domestik yang menuntut pengurangan keterlibatan militer luar negeri dengan kebutuhan mempertahankan pengaruh strategis di arena global.
Pengamat politik menilai bahwa perseteruan antara Trump dan sekutu Eropa berpotensi melemahkan koalisi NATO, terutama di tengah konflik yang melibatkan Iran dan Rusia.
Hingga kini, tidak ada konfirmasi resmi mengenai rencana konkret penarikan pasukan dari Italia atau Spanyol, namun pernyataan Trump menambah ketidakpastian bagi aliansi Barat.
Situasi terkini menunjukkan Pentagon tetap memantau perkembangan diplomatik, sambil menyiapkan skenario logistik untuk penarikan pasukan jika keputusan akhir diambil.
Keputusan akhir mengenai penarikan pasukan AS dari Jerman masih menunggu arahan lebih lanjut dari Gedung Putih, sementara hubungan transatlantik berada pada titik kritis yang menuntut dialog intensif.
Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.







Tinggalkan Balasan