Media Kampung – Perompak Somalia kembali muncul di perairan Afrika Timur, menahan empat warga negara Indonesia (WNI) setelah membajak tanker Honour 25 pada 21 April 2026. Insiden ini menegaskan kembali bahwa laut menjadi arena bisnis utama para perompak.
Tanker berlayar dengan bendera Uni Emirat Arab itu berangkat dari Oman menuju tujuan tidak diumumkan, sambil mengangkut sekitar 18.000 barel minyak mentah. Pada saat kejadian, kapal tersebut berlayar sekitar 150 mil laut dari pantai Hafun, wilayah yang dikenal rawan serangan.
Empat WNI yang disandera terdiri dari Kapten Ashari Samadikun (33) asal Sulawesi Selatan, Chief Officer Wahudinanto, Third Officer Adi Faizal, serta Fiki Mutakin. Mereka menjadi bagian dari 17 kru kapal yang juga meliputi 10 warga Pakistan, serta masing‑masing satu orang dari Myanmar, Sri Lanka, dan India.
Direktur Pelindungan WNI Kementerian Luar Negeri, Heni Hamidah, menyatakan KBRI Nairobi terus berkomunikasi dengan otoritas setempat sejak insiden terjadi pada Rabu (22/4/2026). “Kami melakukan koordinasi intensif dengan semua pihak terkait di Somalia untuk memastikan keselamatan sandera,” ujarnya.
Kemlu RI menegaskan bahwa penanganan difokuskan pada kerja sama dengan otoritas Somalia, tokoh masyarakat, serta lembaga keamanan internasional. Upaya ini diarahkan agar proses penyelamatan berjalan optimal tanpa menambah risiko bagi ABK.
Data manifest yang diperoleh menunjukkan selain empat WNI, terdapat 10 awak dari Pakistan serta satu awak masing‑masing dari Myanmar, Sri Lanka, dan India. Total kru berjumlah 17 orang, semuanya berada dalam kendali perompak sejak penyerangan.
Tren pembajakan di wilayah Somalia meningkat tajam dalam seminggu terakhir; tiga kapal, termasuk Honour 25, sebuah dhow pada 25 April, dan kapal dagang Sward pada 26 April, menjadi korban. Layanan pelacakan angkatan laut Uni Eropa memperingatkan semua kapal menghindari zona 150 mil dari pantai Somalia.
Pakar politik Timur Tengah Universitas Indonesia, Yon Machmudi, menilai kasus ini rumit karena melibatkan jaringan kriminal transnasional serta kepentingan geopolitik lokal. Ia menambahkan bahwa negosiasi dengan perompak memerlukan pendekatan diplomatik yang hati‑hati.
Peneliti senior Institut Studi Internasional Denmark, Jethro Norman, menjelaskan bahwa perompak Somalia kini memanfaatkan celah akibat fokus militer internasional pada Laut Merah dan Selat Hormuz. Teknologi GPS, komunikasi satelit, serta kapal induk dhow memberi mereka kemampuan operasional yang lebih luas.
Pemerintah Indonesia telah menyiapkan tim khusus untuk menilai opsi penyelamatan, termasuk kemungkinan mediasi melalui perantara lokal dan internasional. Kementerian Pertahanan juga meningkatkan kesiapan pasukan maritim untuk mendukung operasi jika diperlukan.
Hingga kini, perompak masih menguasai kapal dan menahan sandera di wilayah terpencil dekat Garacad. KBRI Nairobi terus memantau situasi secara saksama dan berkoordinasi dengan pihak keamanan Somalia untuk mencari jalan keluar yang aman.
Situasi penyanderaan masih berlangsung, dengan harapan negosiasi dapat menghasilkan pembebasan sandera tanpa korban jiwa. Pemerintah Indonesia tetap berkomitmen melindungi warganya dan memastikan keamanan perairan internasional.
Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.







Tinggalkan Balasan