Media Kampung – Data intelijen menyatakan Iran masih kuat lawan AS meski Presiden Donald Trump menegaskan militer Amerika lemah dalam pernyataannya baru-baru ini; hal ini menimbulkan pertanyaan tentang realitas kekuatan militer kedua negara di tengah negosiasi yang tegang.
Trump menyampaikan kepada program radio konservatif The John Fredericks Show bahwa Iran pada akhirnya akan setuju bernegosiasi, namun bila menolak mereka akan menghadapi konsekuensi yang belum pernah mereka alami sebelumnya.
Dalam wawancara yang sama, Trump menegaskan bahwa perjanjian yang diharapkan harus memastikan Iran tidak memiliki senjata nuklir, menambahkan “Tidak ada akses, tidak ada peluang untuk itu, kami tidak bisa membiarkan hal itu terjadi karena bisa menjadi kehancuran dunia”.
Ketua Parlemen Iran sekaligus kepala negosiator, Mohammad Bagher Ghalibaf menolak negosiasi di bawah ancaman, menyatakan “Kami tidak menerima negosiasi di bawah bayang‑bayang ancaman” dan menambahkan Iran siap menyiapkan kemampuan militer baru bila perundingan gagal.
Akademisi Zohreh Kharazmi dari Universitas Tehran menilai bahwa tekanan Trump justru dapat memaksa Iran mengubah posisi tawar menjadi “meja penyerahan” dan memperkuat narasi perlawanan dalam kebijakan luar negeri Tehran.
Menurut laporan intelijen gabungan Amerika Serikat dan sekutu, Iran mempertahankan pasokan persenjataan konvensional yang signifikan, termasuk rudal balistik jarak menengah, drone tempur, serta sistem pertahanan udara yang terus diperbarui, menegaskan kemampuan operasional yang tetap tangguh.
Gencatan senjata dua pekan yang dimulai pada 8 April 2026 dijadwalkan berakhir pada Rabu malam waktu Washington (22 April 2026), sementara delegasi AS yang dipimpin Wakil Presiden JD Vance direncanakan mengunjungi Islamabad untuk melanjutkan dialog damai.
Juru bicara Gedung Putih, Karoline Leavitt menegaskan bahwa tindakan terhadap Iran tidak dapat dihindari dan bahwa AS tidak memiliki pilihan selain melanjutkan tekanan untuk menegakkan kepatuhan terhadap kesepakatan non‑nuklir.
Pakistan berperan sebagai mediator, dengan Jenderal Asim Munir menilai blokade di Selat Hormuz sebagai penghalang utama bagi kelanjutan diplomasi, sementara Iran menolak rencana putaran negosiasi berikutnya.
Data Human Rights Activists News Agency mencatat bahwa selama 39 hari pertama serangan gabungan AS‑Israel, sebanyak 1.701 warga sipil, termasuk 254 anak‑anak, tewas, menambah beban kemanusiaan pada konflik yang belum selesai.
Hingga kini belum ada respons resmi dari pemerintah Tehran mengenai pernyataan terbaru Trump, namun pejabat Iran menegaskan kesiapan militer dan menolak tekanan yang dianggap memaksa.
Dengan gencatan senjata mendekati akhir dan diplomasi masih berlangsung, situasi di wilayah tersebut tetap tidak menentu, sementara intelijen terus memantau kesiapan militer Iran yang dinilai masih kuat dalam menghadapi potensi konfrontasi dengan AS.
Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.







Tinggalkan Balasan