Media Kampung – Presiden Prabowo Subianto memimpin rapat terbatas di Istana Merdeka pada Senin 20 April 2026 untuk mempercepat pematangan Giant Sea Wall Pantura, proyek infrastruktur strategis yang ditujukan melindungi wilayah pesisir utara Jawa dari ancaman erosi dan banjir.

Rapat tersebut dihadiri oleh sejumlah menteri Kabinet Merah Putih, antara lain Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Brian Yuliarto, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, dan Menteri Pekerjaan Umum serta Perumahan Rakyat.

Para pejabat menegaskan bahwa percepatan studi kelayakan, penyusunan desain teknis, dan penggalangan dana menjadi prioritas utama guna menyiapkan fondasi proyek sebelum akhir tahun.

Pesisir Pantura selama dekade terakhir mengalami penurunan tanah rata-rata 30 sentimeter per tahun, sementara kejadian banjir musiman meningkat 45 persen, menimbulkan kerugian ekonomi signifikan bagi sektor pertanian dan perikanan.

Giant Sea Wall Pantura direncanakan membentang sepanjang 400 kilometer, menghubungkan Banyuwangi hingga Merak, dan diharapkan menjadi benteng pertama melawan kenaikan muka air Laut Jawa.

Anggaran awal proyek diperkirakan mencapai Rp30 triliun, dengan kontribusi dana APBN, BUMN, serta partisipasi swasta melalui skema kemitraan publik‑swasta (PPP).

Jadwal pembangunan ditargetkan selesai pada tahun 2035, dengan fase konstruksi dibagi menjadi tiga tahap utama: persiapan lahan, pembangunan inti dinding laut, dan integrasi dengan sistem drainase existing.

‘Kita harus memastikan proyek ini selesai tepat waktu dan sesuai standar internasional,’ ujar Presiden Prabowo dalam sambutan singkatnya sebelum rapat dimulai.

Menteri Brian Yuliarto menambahkan, ‘Studi ilmiah terbaru menunjukkan bahwa penggunaan material komposit ramah lingkungan dapat meningkatkan daya tahan dinding hingga 20 persen.’

Desain teknis mencakup penggunaan beton bertulang berlapis geotekstil, serta pemasangan sistem sensor real‑time untuk memantau tekanan air dan deformasi struktur.

Analisis dampak lingkungan yang dilakukan oleh Badan Lingkungan Hidup menyatakan bahwa proyek akan menimbulkan gangguan sementara pada habitat mangrove, namun mitigasi berupa penanaman kembali 10.000 hektar mangrove direncanakan.

Pemerintah daerah di sepanjang Pantura diminta menyelaraskan rencana tata ruang lokal dengan corridor proyek, serta menyediakan lahan yang diperlukan melalui mekanisme kompensasi yang adil.

Beberapa tantangan utama meliputi proses pengadaan lahan yang kompleks, kebutuhan pendanaan jangka panjang, serta adaptasi desain terhadap proyeksi kenaikan permukaan laut hingga 1,2 meter pada akhir abad ini.

Pada fase terkini, tim teknis telah menyelesaikan studi kelayakan dan kini memasuki tahap penyusunan dokumen tender, dengan harapan proses lelang dapat dimulai pada kuartal ketiga 2026.

Presiden menutup rapat dengan menekankan pentingnya koordinasi lintas kementerian dan pemantauan berkala, serta menginstruksikan tim khusus untuk melaporkan progres setiap enam bulan ke Istana.

Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.