Media Kampung – Jenazah seorang pasukan perdamaian Perancis yang gugur di Lebanon Selatan telah dipulangkan ke Prancis, menandai satu korban tewas dalam serangan terhadap UNIFIL pada 18 April 2026.

Upacara penghormatan terakhir digelar di pangkalan militer Bandara Internasional Beirut, di mana peti jenazah Sersan Staf Florian Montorio dipindahkan ke pesawat militer untuk kembali ke Paris.

UNIFIL mengonfirmasi satu anggota pasukan penjaga perdamaian Perancis tewas dan tiga lainnya mengalami luka-luka, dua di antaranya masih dirawat di rumah sakit Beirut.

Serangan terjadi ketika pasukan UNIFIL melakukan patroli rutin di wilayah selatan Lebanon, tepat di dekat zona gencatan senjata yang ditetapkan selama sepuluh hari.

Pernyataan resmi Kementerian Luar Negeri Indonesia menyampaikan belasungkawa mendalam kepada Pemerintah Prancis serta menegaskan keprihatinan atas pelanggaran gencatan senjata.

“Semua pihak harus menahan diri, menghormati kedaulatan negara, dan menjunjung tinggi hukum internasional termasuk hukum humaniter,” ujar juru bicara Kemlu RI dalam siaran pers.

Presiden Prancis Emmanuel Macron menuduh Hizbullah sebagai pihak yang bertanggung jawab atas penyerangan tersebut, menyebutnya sebagai tindakan yang dapat dikategorikan kejahatan perang.

Hizbullah membantah keterkaitan apapun dengan insiden, menegaskan tidak ada bukti yang mengaitkan kelompoknya dengan serangan pada pasukan UNIFIL.

Insiden ini muncul di tengah meningkatnya ketegangan di perbatasan Lebanon‑Israel, terutama setelah pertempuran baru antara Hizbullah dan Israel pecah pada 2 Maret 2026.

Menanggapi situasi, Menteri Pertahanan Israel menginstruksikan militer untuk menggunakan kekuatan penuh di Lebanon, menambah kekhawatiran akan eskalasi lebih lanjut.

Pemerintah Prancis telah mengirimkan tim diplomatik ke Beirut untuk berkoordinasi dengan pihak Lebanon dan PBB terkait keamanan personel UNIFIL.

Pasukan UNIFIL, yang terdiri dari lebih dari 10.000 personel dari 30 negara, menegaskan komitmen mereka untuk melindungi warga sipil dan memantau gencatan senjata.

Dalam pernyataannya, UNIFIL menegaskan bahwa serangan terhadap pasukan penjaga perdamaian tidak dapat ditoleransi dan akan dilaporkan kepada Dewan Keamanan PBB.

Para korban luka berat masih dirawat di Rumah Sakit Amerika di Beirut, sementara satu anggota lainnya menerima perawatan di fasilitas medis di selatan Lebanon.

Tim medis internasional yang berada di wilayah itu menyediakan bantuan pertama dan evakuasi medis sesuai protokol UNIFIL.

Konsulat Prancis di Beirut menyiapkan proses repatriasi jenazah, termasuk koordinasi transportasi, dokumen, dan upacara militer di tanah air.

Pemakaman resmi Florian Montorio dijadwalkan pada akhir pekan di Paris, dengan kehadiran perwakilan militer dan diplomat Prancis.

Indonesia menegaskan dukungan pada pernyataan bersama tentang keamanan personel PBB pada 9 April 2026, menuntut perlindungan penuh bagi semua peacekeepers.

Dalam konteks regional, negara-negara Uni Eropa mengutuk serangan terhadap pasukan penjaga perdamaian dan menyerukan dialog damai antara semua pihak.

Para analis keamanan menilai bahwa serangan ini dapat memicu respon militer yang lebih luas dari Israel, memperparah situasi di perbatasan.

Namun, para diplomat PBB berupaya menengahi gencatan senjata yang baru, berusaha mencegah terjadinya konflik berskala lebih besar.

Sejumlah laporan media menyebutkan bahwa serangan tersebut terjadi pada pukul 14.30 waktu setempat, ketika patroli UNIFIL melewati jalan utama di desa al‑Qantara.

Unit pengintai UNIFIL mencatat adanya ledakan suara keras sebelum serangan, yang kemudian diidentifikasi sebagai tembakan artileri.

Setelah insiden, pasukan UNIFIL meningkatkan tingkat kewaspadaan, memperketat patroli, dan menambah titik pemeriksaan di zona sensitif.

Pemerintah Lebanon menegaskan bahwa mereka tidak mengizinkan aksi kekerasan terhadap pasukan PBB dan menuntut penegakan hukum yang tegas.

Presiden Lebanon, Michel Aoun, menyatakan keprihatinannya atas korban, dan meminta semua pihak menghormati mandat UNIFIL.

Berita ini terus dipantau oleh jaringan internasional, dengan fokus pada upaya diplomatik untuk menstabilkan situasi di Lebanon Selatan.

Hingga saat ini, tidak ada laporan resmi tentang penangkapan atau identifikasi pelaku serangan, sehingga penyelidikan masih berlangsung.

Kondisi terbaru menunjukkan bahwa jenazah pasukan perdamaian Perancis telah tiba di Paris, sementara perawatan korban luka terus berlanjut di Beirut.

Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.