Media Kampung – 15 April 2026 | Amerika Serikat melancarkan blokade militer terhadap pelabuhan Iran dan Selat Hormuz pada Senin 13 April 2026, menargetkan semua kapal yang memasuki atau meninggalkan wilayah tersebut.

Blokade diberlakukan pukul 10.00 waktu Washington (14.00 GMT) dan dilaporkan menghentikan seluruh arus perdagangan laut Iran dalam kurang dari 36 jam.

Brad Cooper, komandan CENTCOM, menyatakan, “Kurang dari 36 jam sejak blokade diberlakukan, pasukan AS telah menghentikan sepenuhnya arus perdagangan ekonomi yang masuk dan keluar Iran lewat laut.”

Operasi melibatkan lebih dari 10.000 personel, lebih dari selusin kapal perang, serta pesawat tempur dan drone yang memantau pergerakan maritim di Teluk Oman dan Laut Arab.

Dalam 24 jam pertama, enam kapal dagang dilaporkan dipaksa berbalik arah setelah intervensi kapal perusak Angkatan Laut AS yang menangkap dua tanker minyak dari Pelabuhan Chabahar.

Kapal yang diputar balik termasuk tanker berflag Komoro Elpis, serta kapal kargo berflag Liberia Christianna, keduanya sempat menembus selat sebelum menerima perintah radio untuk kembali ke pelabuhan Iran.

Data pelacakan Kpler mencatat setidaknya tiga kapal berhasil melintasi Selat Hormuz setelah blokade, termasuk tanker China Rich Starry dan kapal kargo lain yang berlayar sebelum batas waktu penetapan.

Sejumlah laporan menunjukkan total tujuh kapal melewati blokade, di antaranya empat kapal tanker yang terkait dengan Iran, menimbulkan pertanyaan mengenai efektivitas total operasi.

Centcom mengklaim bahwa blokade telah melumpuhkan hingga 90 persen arus ekonomi maritim Iran, menutup akses bahan baku, barang konsumsi, dan ekspor minyak melalui jalur laut.

Negosiasi damai yang berlangsung di Pakistan pada 11 April 2026 gagal, memicu kunjungan wakil presiden AS JD Vance ke Islamabad untuk membahas langkah lanjutan.

Sekjen PBB Antonio Guterres menekankan pentingnya menjaga kebebasan navigasi internasional di Selat Hormuz, menyatakan bahwa dialog diplomatik harus diutamakan daripada eskalasi militer.

Pejabat militer Iran menolak legitimasi blokade, mengklaim bahwa operasi tersebut melanggar hukum internasional dan menambah tekanan pada ekonomi domestik yang sudah terpuruk.

Penghambatan lalu lintas maritim Iran diproyeksikan meningkatkan harga minyak dunia, karena pasar harus mencari rute alternatif yang lebih mahal dan berisiko.

Hingga hari Rabu 15 April 2026, blokade tetap berlaku, dengan sebagian besar kapal komersial menghindari pelabuhan Iran dan menunggu arahan resmi sebelum melanjutkan perjalanan.

Situasi kini berada pada titik impas, di mana AS menegaskan blokade tetap efektif, sementara pihak internasional menunggu perkembangan diplomatik untuk menentukan arah kebijakan selanjutnya.

Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.