Media Kampung – 12 April 2026 | Amerika Serikat dan Lebanon menuntut Israel menghentikan serangan militer secara sementara menjelang perundingan damai yang dijadwalkan pada pekan depan.

Permintaan tersebut disampaikan melalui perantara diplomatik Washington pada Sabtu, 11 April 2026, setelah Israel melancarkan serangan udara besar-besaran ke Beirut dan wilayah selatan Lebanon pada 8 April.

Presiden Amerika Serikat menegaskan dukungan penuh terhadap seruan Lebanon, sambil menuntut Israel untuk menuruti permintaan itu demi menciptakan iklim yang kondusif bagi dialog.

Sementara itu, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu belum memberikan respons resmi, meski pada 9 April ia menginstruksikan kabinet untuk memulai pembicaraan langsung dengan Lebanon.

Netanyahu menambahkan bahwa perundingan akan fokus pada pelucutan senjata kelompok Hizbullah dan upaya membangun hubungan damai antara kedua negara.

Namun, pernyataan tersebut muncul bersamaan dengan laporan bahwa Hizbullah menanggapi serangan Israel dengan serangan balasan pada 9 April, memperkeruh situasi di perbatasan.

Kementerian Luar Negeri Lebanon, yang dipimpin oleh Duta Besar Yechiel Leiter, menyatakan kesiapan untuk mengadakan pertemuan formal di Washington pada tanggal 14 April.

Leiter menegaskan Israel menolak membahas gencatan senjata dengan Hizbullah, meskipun keduanya berada dalam proses negosiasi yang lebih luas.

Menurut sumber dekat pemerintah Lebanon, permintaan gencatan senjata sementara diharapkan dapat menurunkan korban sipil dan mempermudah bantuan kemanusiaan.

Data dari Kompas.com mencatat bahwa serangan Israel pada 8 April menewaskan sejumlah warga sipil di kota-kota selatan Lebanon, termasuk Mayfadoun.

Organisasi Hak Asasi Manusia internasional mengingatkan bahwa setiap eskalasi militer dapat menghambat proses perdamaian yang sudah lama ditunggu.

Pernyataan resmi AS menekankan pentingnya menghormati kedaulatan Lebanon dan menghindari tindakan yang dapat memperburuk ketegangan regional.

Presiden Lebanon Joseph Aoun menambahkan bahwa jalur diplomatik kini memperoleh respons positif dari komunitas internasional, termasuk Amerika Serikat.

Aoun menegaskan solusi utama konflik adalah gencatan senjata menyeluruh dan penarikan pasukan Israel dari wilayah Lebanon.

Anggota parlemen Hizbullah, Ali Fayyad, menolak gagasan negosiasi langsung tanpa prasyarat gencatan senjata, menyatakan bahwa Lebanon harus menuntut penghentian total serangan dulu.

Fayyad menambahkan bahwa prioritas utama Hizbullah adalah penarikan semua pasukan Israel dan pemulangan pengungsi yang terdampak.

Sementara itu, media Amerika Axios melaporkan bahwa permintaan penghentian sementara pertempuran telah diajukan oleh pemerintah Lebanon kepada Gedung Putih, namun belum ada konfirmasi resmi.

Kantor Berita Nasional Lebanon (NNA) mencatat bahwa pada 11 April sebuah bangunan tempat tinggal di Mayfadoun hancur akibat serangan udara Israel.

Kejadian tersebut menambah tekanan internasional terhadap Israel untuk menahan operasi militer hingga perundingan dimulai.

Para ahli geopolitik menilai bahwa keberhasilan negosiasi sangat dipengaruhi oleh kondisi keamanan di lapangan, sehingga penghentian serangan menjadi faktor kunci.

Jika Israel mematuhi permintaan AS dan Lebanon, proses damai di Washington dapat berlanjut tanpa gangguan militer yang signifikan.

Sebaliknya, kelanjutan serangan dapat memicu respons militer tambahan dari Hizbullah, yang berpotensi memperluas konflik ke wilayah lain.

Pihak Amerika Serikat terus mengirimkan tim diplomatik ke wilayah Beirut untuk memantau situasi dan memastikan jalur komunikasi tetap terbuka.

Hingga saat artikel ini ditulis, belum ada keputusan akhir dari pemerintah Israel mengenai penghentian serangan sementara.

Kondisi terbaru menunjukkan bahwa kedua belah pihak tetap berada dalam posisi menunggu, sementara komunitas internasional menekankan pentingnya dialog damai.

Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.