Media Kampung – 12 April 2026 | Islamabad menjadi saksi pertemuan diplomatik bersejarah pada Sabtu, 11 April 2026, ketika delegasi Iran tiba untuk memulai pembicaraan damai dengan Amerika Serikat. Kedatangan tim Iran dipimpin oleh Mohammad Bagher Ghalibaf, ketua parlemen Iran sekaligus mantan wali kota Teheran.

Ghalibaf, yang berusia 64 tahun, sebelumnya menjabat sebagai komandan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) dan dikenal sebagai tokoh keras dalam kebijakan dalam negeri Teheran. Pengalaman militernya dianggap memberikan bobot strategis dalam negosiasi yang melibatkan isu keamanan regional.

Delegasi Iran terdiri atas 71 anggota, mencakup negosiator utama, penasihat teknis, jurnalis, serta tim keamanan dan diplomatik. Tim tersebut membawa dokumentasi visual korban serangan pada 28 Februari 2026 sebagai simbol penderitaan rakyat Iran.

Dalam unggahan media sosialnya, Ghalibaf menampilkan foto-foto anak-anak Iran yang tewas dalam serangan tersebut, menegaskan bahwa pertemuan ini juga merupakan upaya mencari keadilan bagi korban. Ia menambahkan bahwa delegasinya berangkat dengan tekad kuat untuk mengungkap kebenaran.

Negosiasi ini dipimpin oleh Wakil Presiden Amerika Serikat JD Vance, yang ditemani oleh utusan khusus Steve Witkoff dan menantu mantan presiden Donald Trump, Jared Kushner. Kedua belah pihak menyiapkan agenda yang mencakup penghentian tembakan dan pembukaan kembali Selat Hormuz.

Iran menyampaikan sepuluh poin utama, termasuk pengakuan kedaulatan atas Selat Hormuz, kompensasi kerusakan perang, pencabutan semua sanksi, dan hak pengayaan nuklir. Sementara Amerika Serikat mengusulkan proposal 15 poin yang menekankan pembatasan program nuklir Iran.

Ghalibaf mengingatkan bahwa Iran tidak akan menerima syarat yang mengancam kedaulatan nasionalnya. Ia menegaskan, “Kami memiliki niat baik, tetapi kami tidak mempercayai janji-janji yang tidak terikat pada tindakan konkret.”

JD Vance menanggapi dengan menekankan pentingnya itikad baik, sambil memperingatkan Iran agar tidak memanfaatkan proses diplomatik. “Jika Iran bersedia bernegosiasi dengan itikad baik, kami siap mengulurkan tangan,” ujarnya.

Pengamanan ketat diterapkan di sekitar Hotel Serena, tempat pertemuan berlangsung, dengan jalan utama ditutup untuk lalu lintas sipil. Keamanan ini mencerminkan ketegangan tinggi dan kekhawatiran akan potensi eskalasi.

Para analis internasional menilai peran Ghalibaf sebagai kunci karena kemampuannya menjembatani kepentingan militer dan politik. Keberadaannya di meja perundingan memberi sinyal bahwa Tehran ingin menegosiasikan posisi strategisnya secara langsung.

Media Iran melaporkan bahwa delegasi juga membawa tim media untuk menyiapkan laporan real time tentang perkembangan pertemuan. Hal ini menunjukkan keinginan Tehran untuk mengendalikan narasi publik internasional.

Sejumlah pejabat senior Iran, termasuk mantan menteri luar negeri dan perwakilan diplomatik di Pakistan, turut hadir sebagai pendukung teknis. Mereka dipersiapkan untuk memberikan data rinci terkait sanksi ekonomi dan kebijakan energi.

Negosiasi diperkirakan akan berlangsung selama dua hari, dengan harapan mencapai kesepakatan gencatan senjata sementara. Jika tercapai, hal ini dapat membuka jalan bagi pemulihan jalur minyak di Selat Hormuz.

Pengamat politik menilai bahwa hasil pembicaraan sangat bergantung pada kemampuan kedua belah pihak menyeimbangkan tuntutan keamanan dan kepentingan ekonomi. Kegagalan dapat memperpanjang konflik yang telah menelan ribuan nyawa.

Setelah pertemuan pertama, Ghalibaf menjanjikan akan melaporkan hasilnya kepada parlemen Iran dan publik internasional. Ia menegaskan bahwa Iran tidak akan menutup mata terhadap setiap pelanggaran yang terjadi.

Dengan tekanan global dan kebutuhan mendesak akan stabilitas energi, perundingan ini menjadi titik kritis bagi hubungan Iran-AS. Keberhasilan atau kegagalan akan berdampak luas pada pasar minyak dan keamanan regional.

Artikel ini akan terus memperbaharui perkembangan selanjutnya sesuai dengan laporan resmi dan sumber terpercaya.

Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.