Media Kampung – Sekretaris Jenderal NATO Mark Rutte baru-baru ini menjadi sorotan setelah pernyataannya mengenai keterlibatan Italia dalam serangan Amerika Serikat ke Iran memicu kontroversi. Dalam wawancara dengan Fox News, Rutte menyebut bahwa sekitar 500 pesawat AS lepas landas dari pangkalan militer di Italia untuk mendukung operasi militer ‘Operation Epic Fury’ yang dilancarkan Washington bersama Israel terhadap Iran.

Pernyataan itu langsung dibantah keras oleh Pemerintahan Perdana Menteri Italia Giorgia Meloni. Menteri Pertahanan Italia Guido Crosetto menegaskan bahwa Italia hanya mengizinkan aktivitas teknis dan logistik non-kinetik di pangkalan militernya, bukan untuk aksi militer langsung terhadap Iran. Crosetto mengaku terkejut dengan pernyataan Rutte yang dinilai menyesatkan, apalagi Rutte tidak memiliki keterkaitan langsung dengan operasi tersebut.

Italia menjadi tuan rumah sekitar 120 fasilitas militer AS, termasuk Pangkalan Udara Angkatan Laut Sigonella di Sisilia dan Pangkalan Udara Aviano di Italia utara. Namun, Roma berulang kali menyatakan tidak pernah mengizinkan penggunaan wilayahnya untuk serangan ofensif terhadap Iran. Penegasan ini disampaikan Crosetto di parlemen Italia, seraya menambahkan bahwa pemerintah telah bertindak sesuai konstitusi dan perjanjian internasional.

Kontroversi ini muncul di tengah persiapan KTT NATO di Ankara, Turki, pada 7-8 Juli 2026. Deputi Komandan NATO, Sir John Stringer, menyatakan bahwa KTT tersebut harus menunjukkan persatuan aliansi, mendorong anggota meningkatkan belanja pertahanan, serta mempertegas dukungan untuk Ukraina. Stringer mengakui bahwa NATO saat ini sedang berada dalam masa turbulensi, terutama dengan sinyal beragam dari Presiden AS Donald Trump mengenai komitmen Amerika di Eropa.

Trump sebelumnya juga mengkritik sekutu NATO yang tidak mengizinkan penggunaan pangkalan mereka untuk menyerang Iran. Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth bahkan mengumumkan peninjauan enam bulan terhadap pasukan Amerika di Eropa. Di sisi lain, sejumlah menteri di Inggris mengundurkan diri karena rencana belanja militer yang dinilai tidak memadai.

Pernyataan Mark Rutte tentang Italia ini tidak hanya memperumit hubungan Roma dengan Washington, tetapi juga dengan Teheran. Italia, yang selama ini berusaha menjaga keseimbangan hubungan dengan kedua negara, kini harus menghadapi tekanan diplomatik dari kedua belah pihak. Dalam pidato di parlemen, Meloni menegaskan bahwa Italia tidak ikut serta dalam operasi militer ofensif apapun terhadap Iran.

KTT Ankara diharapkan dapat meredakan ketegangan dan memperkuat kembali komitmen bersama anggota NATO. Namun, kontroversi yang dipicu oleh pernyataan Rutte menunjukkan betapa rapuhnya persatuan aliansi di tengah tekanan perang dan perbedaan kepentingan antar anggota.

Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.