Media Kampung – Sutradara Joko Anwar mengungkapkan perjalanan emosional dalam pembuatan film terbarunya, Ghost in the Cell, yang kini telah meraih lebih dari 3 juta penonton. Melalui unggahan di Instagram pribadi, Joko menjelaskan bagaimana ia dan timnya menyadari bahwa proyek ini mengandung risiko tinggi, mengingat tema yang diangkat berkaitan dengan isu sensitif seperti korupsi sumber daya alam di Indonesia.

Film yang mengusung genre horor gore komedi ini tidak hanya berfokus pada elemen ketegangan, tetapi juga berusaha menggugah kesadaran masyarakat akan fenomena yang dikenal sebagai ‘kutukan sumber daya alam’. Joko menjelaskan bahwa Indonesia sebagai negara kaya sumber daya alam seringkali menghadapi tantangan seperti korupsi, oligarki, dan ketimpangan sosial. “Kami tahu ini proyek yang high risk,” tulisnya dalam unggahan tersebut.

Awalnya, Joko merasa ragu apakah film dengan tema yang dianggap berat ini akan diterima oleh penonton. Namun, ia kemudian menyadari pentingnya membahas isu tersebut. Setelah film dirilis, respons penonton ternyata sangat positif. Joko merasa bersyukur karena banyak orang yang merasakan keresahan yang sama dan memberikan dukungan yang luar biasa.

“Setelah film ini rilis, yang muncul setiap hari adalah ucap syukur. Bukan hanya soal angka box office, tapi orang Indonesia yang punya keresahan sama ternyata banyak,” ujarnya. Hal ini menunjukkan bahwa film tersebut berhasil menyentuh hati masyarakat, dan tidak hanya sekadar menjadi tontonan.

Ghost in the Cell menceritakan teror supranatural yang terjadi di lembaga pemasyarakatan, menampilkan jajaran aktor ternama seperti Abimana Aryasatya, Rio Dewanto, dan Tora Sudiro. Film ini berhasil menarik perhatian penonton dengan paduan cerita yang unik dan elemen komedi yang cerdas meskipun mengangkat tema serius.

Sebagai bentuk apresiasi terhadap antusiasme penonton, Joko Anwar berjanji akan membagikan lebih banyak konten eksklusif di balik layar pembuatan film. “Kami akan share lebih banyak materi-materi di balik layar, dan materi-materi cute lainnya sebagai tanda terima kasih,” ungkapnya.

Dengan pencapaian ini, Ghost in the Cell tidak hanya menjadi salah satu film terlaris di tahun 2026, tetapi juga mengajak masyarakat untuk lebih aktif bersuara mengenai berbagai persoalan yang ada di sekitar mereka. Joko mengajak semua orang untuk terus berbicara dan menyoroti isu-isu penting yang ada.

Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.