Media Kampung – Tantrum pada anak balita sering menjadi ujian kesabaran bagi orang tua. Namun, cara merespons ledakan emosi ini sangat memengaruhi perkembangan kecerdasan emosional anak. Psikolog Pendidikan dari Rumah Dandelion, Orissa Anggita Rinjani, M.Psi., Psikolog, memberikan panduan agar orang tua tidak terpancing emosi saat menghadapi anak tantrum.

Respons yang Harus Dihindari

Orissa menekankan beberapa respons yang justru kontraproduktif saat anak tantrum. Hindari ikut marah atau membentak, mempermalukan atau mengancam anak, mengabaikan sepenuhnya, serta langsung menuruti permintaan anak hanya agar ia cepat diam. Respons-respons tersebut tidak membantu anak belajar mengenali emosinya, malah membuat anak semakin kesulitan mengelola perasaan.

Pendampingan yang Tepat

Sebaliknya, Orissa menyarankan orang tua untuk tetap tenang, menggunakan suara lembut, mendampingi dengan penuh kehadiran, dan memvalidasi apa yang dirasakan anak. Setelah emosi mereda, barulah ajak anak berbicara. Jangan buru-buru memberi nasihat karena nasihat akan lebih mudah diterima setelah anak tenang.

“Tugas kita bukan membuat anak cepat berhenti tantrum. Proses ini justru membantu anak belajar mengelola emosi sehingga ia tumbuh menjadi pribadi yang lebih cerdas secara emosional,” jelas Orissa. Dengan pendampingan yang tepat, tantrum menjadi kesempatan belajar bagi anak untuk mengenali, memahami, dan mengelola emosinya dengan lebih baik.

Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.