Media Kampung – 15 April 2026 | Pengasuh Pondok Pesantren Assunniyyah Kencong, KH Ahmad Ghonim Jauhari, menjelaskan cara agar anak menjadi pembawa kebahagiaan, bukan sekadar sumber kebahagiaan bagi orang tua.
Dalam pertemuan yang diadakan pada 12 April 2026 di Jember, beliau menekankan pentingnya menanamkan nilai-nilai empati sejak usia dini.
KH Ahmad Ghonim menambahkan bahwa lingkungan keluarga dan pesantren berperan utama dalam membentuk karakter yang mengutamakan kepedulian sosial.
Ia menyarankan orang tua untuk memberikan contoh konkret, seperti mengajak anak berpartisipasi dalam kegiatan sosial di lingkungan sekitar.
Contoh kegiatan yang direkomendasikan antara lain membantu tetangga yang membutuhkan, mengumpulkan sumbangan untuk fakir miskin, dan menanam pohon.
Selain aksi nyata, ia menekankan pentingnya pembelajaran nilai agama yang menumbuhkan rasa syukur dan tanggung jawab.
Dalam perspektif Islam, kebahagiaan tidak hanya bersifat material, melainkan juga spiritual yang tercermin dari perilaku yang bermanfaat.
KH Ahmad Ghonim mengutip hadis Nabi Muhammad SAW yang menyatakan bahwa orang yang paling berbahagia adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain.
Ia juga menekankan pentingnya mengajarkan anak membaca doa-doa harian yang mengandung permohonan agar menjadi pribadi yang berguna.
Pengasuh menegaskan bahwa disiplin waktu shalat dan pengajian rutin dapat menstabilkan emosi anak sehingga lebih mudah menebarkan kebahagiaan.
Sebagai langkah praktis, beliau memperkenalkan program “Anak Bahagia” yang diluncurkan pada awal tahun 2026 di pesantren.
Program tersebut mencakup pelatihan komunikasi efektif, kerja tim, serta kegiatan bakti sosial mingguan.
Selama tiga bulan pertama, lebih dari seratus santri berpartisipasi dan melaporkan peningkatan rasa percaya diri serta kepedulian terhadap sesama.
Data internal pesantren menunjukkan bahwa 87 persen peserta program mengaku lebih sering membantu teman sekelas dalam tugas belajar.
Hasil survei internal juga mengungkapkan penurunan tingkat stres pada anak-anak yang mengikuti program, dibandingkan dengan yang tidak.
KH Ahmad Ghonim menilai bahwa pencapaian tersebut membuktikan bahwa kebahagiaan dapat ditumbuhkan lewat pendidikan karakter yang konsisten.
Ia menambahkan bahwa peran guru dan pembina sangat krusial dalam memantau perkembangan emosional santri.
Selain itu, pesantren berkolaborasi dengan Dinas Pendidikan Kabupaten Jember untuk memperluas jangkauan program ke sekolah dasar setempat.
Kerjasama ini mencakup penyediaan modul ajar tentang empati, kepedulian, dan kebahagiaan dalam kurikulum lokal.
Kepala Dinas Pendidikan Jember, Dr. Sutrisno, menyatakan dukungan penuh terhadap inisiatif tersebut sebagai bagian dari upaya meningkatkan kualitas pendidikan karakter.
Pengasuh Assunniyyah Kencong menegaskan bahwa keberlanjutan program memerlukan partisipasi aktif orang tua, guru, dan masyarakat luas.
Ia mengajak semua pihak untuk bersama-sama menciptakan lingkungan yang mendukung anak menjadi pembawa kebahagiaan, bukan sekadar penerima kebahagiaan.
Hingga kini, program “Anak Bahagia” terus berjalan, dengan rencana ekspansi ke tiga pesantren lain di wilayah Jawa Timur pada akhir 2026.
Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.







Tinggalkan Balasan