Media Kampung – There Are No Ghosts at the Grand, game debut dari studio independen Inggris Friday Sundae, berhasil mencuri perhatian sebagai salah satu game paling eksentrik yang akan dirilis pada 2026. Menggabungkan elemen renovasi properti, musikal interaktif, dan cerita horor supernatural, game ini menawarkan pengalaman yang sulit dikategorikan. Dalam sesi preview, jurnalis Media Kampung berkesempatan mencoba langsung dan mewawancarai creative director Anil Glendinning.

Renovasi yang Bisa Diinterupsi Cerita

Permainan dimulai di Grand Hotel, di mana pemain ditugaskan merenovasi kamar kecil di lantai satu. Dengan bantuan McBrushy, kuas bicara yang muncul di layar alat renovasi, pemain belajar menggunakan sandblasting, semprotan cat, dan memindahkan sofa. Progress renovasi terlihat di meteran pojok kiri atas. Namun, di tengah pekerjaan, telepon dari Maddie, salah satu warga kota, mengajak pemain bertemu di luar hotel. Glendinning menjelaskan bahwa pemain bisa memilih menyelesaikan renovasi terlebih dahulu atau langsung mengikuti alur cerita. “Tidak semua orang ingin menghabiskan banyak waktu merenovasi. Jika itu bukan gaya Anda, Anda bisa langsung mengikuti cerita,” ujarnya.

Berkendara dan Bernyanyi Bersama Penduduk

Setelah bertemu Maddie, pemain mengendarai moped kuning dengan kucing hitam misterius di keranjang depan menuju dermaga. Kontrol berkendara sederhana dan mulus, dengan sensasi menyenangkan saat melewati tumpukan daun. Di dermaga, pemain merenovasi perahu kecil dengan bantuan fitur scan yang menunjukkan posisi komponen. Saat berlayar bersama Maddie, tiba-tiba ia bernyanyi, dan pemain diberikan dua pilihan dialog yang membuat karakter utama—disuarakan oleh aktor Broadway Alex Brightman—bernyanyi balas dalam duet yang indah namun tegang. Momen ini menunjukkan betapa musik menjadi bagian integral dari identitas game.

Musik Ska, Punk, dan Jazz sebagai Jiwa Game

Glendinning mengungkapkan bahwa awalnya game ini hanya cerita hantu biasa, namun elemen musikal muncul seiring pengembangan. Musik terinspirasi dari band-band Inggris era 80-an dan 90-an seperti The Clash, Madness, Selecter, dan The Specials. “Musik yang sering marah, melawan sistem yang tampaknya bekerja melawan Anda. Dan itulah yang dirasakan karakter dalam game ini—kota yang bermusuhan, rumah yang bermusuhan, merampas masa depan mereka,” jelas Glendinning. Lagu-lagu dalam game bergenre ska, punk, dan jazz, mengekspresikan ketakutan, ambisi, kecemasan, dan kemarahan karakter.

Kebebasan Dekorasi yang Konyol

Setelah perahu kandas di pulau, pemain mencari tempat berlindung di bunker militer tua. Di dalam, ia merenovasi ruangan untuk berkemah. Setelah membersihkan puing-puing, pemain bisa memunculkan tempat tidur, lampu, kursi, dan bahkan memilih wallpaper—termasuk pola langit biru dan awan yang mengingatkan pada Toy Story. Pemain bebas menciptakan desain aneh, seperti menempatkan kursi bergaya gotik sebanyak mungkin. Glendinning menekankan bahwa pemain bisa kembali ke area kapan saja untuk mendekorasi sesuai keinginan, menciptakan ruang permainan, kolam renang, atau ruang musik di Grand Hotel dan desa.

Genre yang Sulit Didefinisikan

Game ini penuh dengan elemen tak terduga: kucing bicara, kuas bicara yang lucu, penduduk yang bersenandung, orang Amerika misterius di telepon, elemen supernatural ala Lovecraft, horor, rahasia, dan mekanik renovasi. Perpaduan antara kegembiraan murni dan kengerian total menciptakan pengalaman yang luar biasa dan surealis. Glendinning mengakui bahwa tim sengaja menciptakan game yang membuat pemain bertanya-tanya genre apa ini. “Kami mencoba merekreasi game dari era PlayStation 2 dan Xbox pertama, sebelum genre benar-benar mapan. Jika Anda bertanya-tanya ‘Game macam apa ini?’, maka kami melakukan pekerjaan kami dengan benar.”

There Are No Ghosts at the Grand dijadwalkan rilis pada Q4 2026 untuk Xbox dan PC. Dengan pendekatan yang tidak konvensional, game ini menjanjikan petualangan yang tidak akan terlupakan.

Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.