Media KampungThe Death of Robin Hood akhirnya tayang di bioskop dan langsung memicu perbincangan. Film garapan Michael Sarnoski ini menyuguhkan versi kelam dari legenda pahlawan rakyat yang selama ini dikenal. Bukan lagi sosok perampok yang gagah dan penuh idealisme, Robin Hood versi Hugh Jackman adalah seorang pembunuh tua yang dikejar masa lalu. Sarnoski mengungkapkan bahwa inspirasi utamanya justru berasal dari balada abad ke-17 yang menggambarkan kematian Robin Hood secara tenang dan sederhana. Dalam wawancara dengan Inverse, ia menjelaskan perubahan besar yang dibuatnya dari kisah asli.

Dari Pahlawan Menjadi Pembunuh Berdarah Dingin

Sarnoski mengaku sejak kecil menggemari Robin Hood versi Disney yang ceria. Namun, setelah ayahnya meninggal, seorang tetangga memberinya buku cerita Robin Hood lawas dari tahun 1940-an. Buku itu terasa sakral dan membawanya pada balada ‘Robin Hood’s Death’ yang asli. “Kamu tidak membayangkan tokoh mitos seperti itu mati. Dan dia memiliki kematian yang begitu manusiawi, tenang, dan sederhana,” kata Sarnoski. Elemen inilah yang membuatnya terobsesi dan akhirnya mengembangkan skrip The Death of Robin Hood.

Dalam film, Robin Hood digambarkan sebagai ‘pembunuh brutal’ yang haus kekayaan, bukan sekadar pejuang keadilan. Ia dan kawanannya meninggalkan jejak mayat, dan di masa tuanya ia harus membayar ‘utang darah’ kepada keluarga korban yang menuntut balas. “Di level tertentu, dia benar-benar ingin mati, tapi dia punya ekspektasi tertentu tentang seperti apa kematian yang pantas,” jelas Sarnoski. Transformasi inilah yang menjadi inti cerita: dari kekerasan menuju ketenangan.

Perubahan Terbesar: Kepala Biara yang Baik Hati

Dalam balada asli, kepala biara yang membunuh Robin Hood digambarkan sebagai wanita jahat yang sengaja mengeluarkan terlalu banyak darah. Namun Sarnoski memutuskan untuk mengubah karakternya menjadi seorang penyembuh yang baik hati bernama Sister Brigid (Jodie Comer). “Dalam cerita asli, kepala biara semacam biarawati jahat dan Robin adalah pahlawan yang baik. Saya pikir ada sesuatu yang intim dan indah antara mereka, dan karakterisasi itu terlalu sederhana,” ujarnya.

Brigid ternyata adalah korban Robin Hood: suami dan anak-anaknya dibantai saat Robin membakar rumah mereka. Ketika Robin terluka parah dan dibawa ke biaranya, Brigid merawatnya tanpa mengetahui identitasnya. Konflik pun memuncak ketika Robin mengungkapkan kebenaran. Alih-alih membunuhnya dalam kemarahan, Brigid justru melakukan pertumpahan darah yang berujung pada kematian Robin yang damai—sebuah perpaduan antara balas dendam dan belas kasihan.

Kematian yang Intim dan Penuh Makna

Sarnoski menekankan bahwa adegan kematian Robin Hood adalah momen yang paling personal. “Gagasan tentang pertumpahan darah perlahan-lahan sampai mati adalah cara yang sangat pribadi dan intim untuk membunuh seseorang. Saya ingin mengeksplorasi keintiman itu,” katanya. Dalam film, adegan tersebut dimulai sebagai aksi balas dendam dan berubah menjadi eutanasia yang disepakati bersama. “Kematian itu sendiri menjadi sesuatu yang mereka temukan bersama,” tambahnya.

Selain itu, Sarnoski juga memperkenalkan karakter Leper (Murray Bartlett) yang ternyata adalah mantan korban Robin yang selamat. Leper memohon pada Robin untuk tidak mengungkapkan identitasnya kepada Brigid dan menggantikannya sebagai pelindung biara. Namun Robin memilih jalan lain: ia menghentikan siklus kekerasan dengan memohon pada seorang pemuda untuk tidak melanjutkan dendam, lalu mengakui dosa-dosanya kepada Brigid.

Kesetiaan pada Akar Cerita

Meskipun banyak perubahan, Sarnoski mengaku tetap setia pada inti balada asli: kematian yang tenang di tempat tidur. “Saya sangat ingin mengupas lebih dalam dan mengeksplorasi karakter-karakter ini sebagai manusia,” ujarnya. Ia juga mencatat bahwa balada Robin Hood awal sebenarnya sangat brutal—ada yang menggambarkan Robin memenggal kepala musuh dan memakainya sebagai lelucon. Jadi, versi gelap ini sebenarnya lebih dekat dengan akar cerita rakyat Inggris daripada yang selama ini dibayangkan.

The Death of Robin Hood kini telah tayang di bioskop. Bagi penggemar cerita Robin Hood, film ini menawarkan perspektif segar yang menantang mitos kepahlawanan dan mengajak penonton merenungkan arti kematian yang bermartabat.

Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.