Media Kampung – PT Kereta Api Indonesia (KAI) menargetkan penurunan emisi karbon sebesar 133.676 ton CO2e melalui implementasi penuh bahan bakar nabati B50. Langkah ini merupakan bagian dari strategi dekarbonisasi perusahaan yang secara keseluruhan menargetkan pengurangan 166.873 ton CO2e dari tiga program utama, termasuk efisiensi listrik dan konservasi karbon.
Direktur Utama KAI Bobby Rasyidin menegaskan bahwa transformasi energi di sektor transportasi membutuhkan adaptasi yang terukur. Dalam keterangannya pada Sabtu, 13 Juni 2026, ia menyatakan bahwa KAI memperkuat peran kereta api melalui roadmap biodiesel dari B0 menuju B50 dengan tetap mengutamakan keselamatan, keandalan layanan, efisiensi energi, dan penurunan emisi.
Vice President Corporate Communication KAI Anne Purba memaparkan rincian teknis transisi bahan bakar. Penggunaan biodiesel telah meningkat dari B20 pada 2018 menjadi B30 pada 2020. KAI mendukung kebijakan pemerintah dalam memperluas pemanfaatan energi ramah lingkungan sambil memastikan setiap tahapan melalui pengujian teknis dan evaluasi agar layanan tetap aman dan andal.
Uji coba B50 sudah berlangsung sejak April 2026 dengan menggandeng Kementerian ESDM. Pengujian dilakukan pada lokomotif CC206 yang melayani Kereta Api Sembrani. Hasil pengujian menjadi dasar evaluasi terkait performa mesin, konsumsi bahan bakar, stabilitas operasional, kondisi filter, aspek emisi, dan kebutuhan perawatan sarana.
Selain itu, uji ketahanan dinamis generator set (genset) dilakukan selama 2.400 jam di Yogyakarta, tepatnya di wilayah Pengawas Urusan Kereta (PUK) Lempuyangan. Unit mesin MTU 2000 P02411 diuji untuk memastikan keandalan operasional.
Anne Purba juga mengungkapkan bahwa dukungan BBM subsidi dari pemerintah membantu KAI menjaga layanan kereta api tetap tersedia bagi masyarakat dan sektor logistik selama masa transisi energi. Alokasi BBM disalurkan melalui BPH Migas bekerja sama dengan SKK Migas. Hingga 5 Juni 2026, realisasi pemakaian bahan bakar bersubsidi mencapai 95.394.629 liter.
Sementara itu, kajian BRIN mencatat emisi Kereta Rel Listrik (KRL) Jabodetabek sebesar 34,03 gram CO2e per satuan tertentu. Data ini menjadi salah satu acuan dalam upaya dekarbonisasi KAI secara keseluruhan.
Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.





Tinggalkan Balasan