Media Kampung – Pemerhati energi menilai strategi pengadaan energi dari berbagai sumber atau multisource berhasil meredam risiko gangguan pasokan energi nasional akibat ketegangan di Timur Tengah. Direktur Eksekutif ReforMiner Institute, Komaidi Risiko, menyatakan bahwa penutupan Selat Hormuz belum mengancam pasokan energi dalam negeri karena Indonesia tidak bergantung pada satu kawasan.

Menurut Komaidi, sekitar 60 hingga 65 persen kebutuhan energi Indonesia berasal dari berbagai sumber, sehingga ketahanan pasokan relatif lebih terjaga. Meski demikian, gangguan dari Timur Tengah tetap berpotensi menimbulkan dampak. Indonesia kemungkinan harus mencari sumber energi alternatif dari kawasan lain, seperti Amerika Serikat, meskipun waktu pengiriman lebih lama.

Komaidi menjelaskan, pengiriman energi dari Afrika atau Timur Tengah hanya membutuhkan waktu delapan hingga dua belas hari, sedangkan dari Amerika Serikat mencapai 35 hingga 40 hari. Pergeseran sumber pasokan ini dipastikan akan meningkatkan biaya pengadaan. Ketersediaan energi dalam negeri tetap menjadi prioritas utama.

Ia menegaskan bahwa ketahanan energi harus berjalan seiring dengan transisi energi menuju target Net Zero Emission Indonesia. Namun, pengembangan energi baru memerlukan waktu yang panjang, umumnya sekitar lima tahun hingga beroperasi secara komersial.

Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.