Media Kampung – Rupiah Indonesia menembus level terendah sepanjang sejarah pada Selasa 5 Mei 2026, mencatat nilai tukar Rp 17.412 per dolar AS, sementara Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengumumkan bahwa ekonomi negara telah melampaui “kutukan” pertumbuhan 5 persen dengan mencatat pertumbuhan tahunan 5,61 persen pada kuartal I 2026, menandai kontras tajam antara tekanan nilai tukar dan sinyal positif pada output ekonomi.
Data perdagangan menunjukkan rupiah berada di Rp 17.412 per dolar pada pukul 09.52 WIB, turun 18 poin atau 0,10 persen dari level sebelumnya, setelah sempat berada di Rp 17.363 pada pukul 09.00 WIB; Bloomberg mencatat penurunan tambahan 13,5 poin atau 0,08 persen pada awal sesi, menegaskan tekanan eksternal yang terus menghantui pasar domestik.
Sentimen pasar global yang masih tidak menentu turut memicu penurunan indeks IHSG, yang pada pembukaan tercatat di level 6.951, turun 0,15 persen menurut data Stockbit, mencerminkan kekhawatiran investor terhadap prospek jangka pendek meski data fundamental ekonomi menunjukkan perbaikan.
Menteri Keuangan Purbaya menegaskan, ‘Indonesia telah berhasil terlepas dari “kutukan” pertumbuhan ekonomi stagnan di kisaran 5 persen,’ dengan mencatat pertumbuhan 5,61 persen pada kuartal I 2026, meningkat signifikan dari 5,39 persen pada kuartal IV 2025, mengindikasikan akselerasi yang terjadi di tengah kondisi global yang masih penuh ketidakpastian.
Pemerintah berencana memperkuat permintaan domestik melalui kebijakan fiskal yang mendukung konsumsi serta meningkatkan daya saing sektor ekspor, sehingga momentum pertumbuhan dapat dipertahankan meski nilai tukar tetap berada pada level yang lemah.
Selama beberapa tahun terakhir, ekonomi Indonesia sering terjebak pada pertumbuhan mendekati 5 persen, yang secara luas dianggap sebagai “kutukan” karena mengindikasikan stagnasi relatif dibandingkan dengan negara‑negara berkembang lain; namun upaya reformasi struktural dan perbaikan iklim investasi mulai memberikan hasil yang terlihat pada data kuartalan.
Bank Indonesia terus memantau volatilitas nilai tukar dan menyiapkan intervensi bila diperlukan, sementara para analis memperkirakan bahwa perbaikan fundamental ekonomi dapat membantu menstabilkan rupiah dalam jangka menengah, meskipun tekanan eksternal tetap menjadi faktor utama yang harus dihadapi.
Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.






Tinggalkan Balasan