Media Kampung – Ketegangan geopolitik di Timur Tengah meningkatkan volatilitas pasar komoditas, menjadikan harga emas pekan depan sorotan utama investor global.
Analisis pasar menunjukkan harga emas dunia ditutup pada USD 4.708 per troy ons, dengan potensi naik ke level resistensi USD 4.779 atau turun ke support USD 4.651.
Jika tekanan geopolitik berlanjut, logam mulia domestik dapat menguat hingga Rp2.865.000 per gram; sebaliknya, pendinginan situasi dapat menurunkan harga ke kisaran Rp2.800.000 per gram.
Ibrahim Assuaibi, analis komoditas, menekankan bahwa penutupan Selat Hormuz oleh Iran meningkatkan harga minyak mentah, yang selanjutnya memicu inflasi dan mempengaruhi nilai tukar dolar AS.
Ia menambahkan, “Faktor geopolitik, perpolitikan di Amerika, kebijakan bank sentral, serta supply‑demand menjadi pendorong utama pergerakan harga emas.”
Data minyak dunia diproyeksikan berada pada USD 82,60 per barel, dengan kemungkinan naik ke USD 107,40 bila konflik semakin intens.
Perubahan kebijakan Federal Reserve Amerika Serikat, termasuk transisi kepemimpinan dan kemungkinan penyesuaian suku bunga, menjadi variabel penting bagi pergerakan dolar dan logam mulia.
Presiden Donald Trump mengisyaratkan kesiapan militer AS untuk menghancurkan kapal Iran di Selat Hormuz, sementara Iran mengancam akan melancarkan serangan jika terjadi pelanggaran gencatan senjata.
Survei Kitco menilai 31% analis memperkirakan kenaikan harga emas pekan ini, 31% memprediksi penurunan, dan sisanya mengantisipasi konsolidasi.
Investor ritel juga menunjukkan ekspektasi serupa, dengan 38% memprediksi kenaikan, 31% penurunan, dan 31% stagnasi harga emas.
Kondisi pasar tetap dipengaruhi oleh indeks dolar AS yang diproyeksikan menguji level resistensi 102,50, sementara dukungan berada di 96,60.
Secara keseluruhan, perkembangan geopolitik, kebijakan moneter, dan harga energi akan menentukan apakah harga emas pekan depan melaju atau mengalami koreksi.
Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.







Tinggalkan Balasan