Media Kampung – Naiknya harga kedelai memaksa perajin tahu di Jember menyesuaikan ukuran produk dan mengurangi tenaga kerja, menandai tekanan biaya pada usaha kuliner skala rumah tangga.
Harga kedelai naik dari Rp 9.600 menjadi Rp 11.500 per kilogram sejak awal Ramadan, mencatat peningkatan sebesar hampir 20 persen dalam waktu kurang dari satu bulan.
Samsul Arifin, pemilik usaha tahu di Kelurahan Mangli, Kaliwates, Jember, menyatakan bahwa kenaikan bahan baku utama memaksa ia menurunkan ukuran blok tahu agar tetap terjangkau bagi pelanggan.
Rata‑rata produksi Samsul mencapai 50–60 kilogram kedelai tiap hari, yang kemudian diolah menjadi sekitar 100–120 kilogram tahu setara, tergantung tingkat penyusutan.
Selain kedelai, biaya operasional lain turut melambung, termasuk minyak goreng, plastik kemasan, dan bahan bakar kayu yang kini lebih intensif dipakai.
Samsul memilih kayu bakar dibandingkan gas elpiji 3 kg karena satu siklus produksi dapat menghabiskan empat tabung gas, sementara hanya memerlukan dua karung kayu bakar.
Kelangkaan pasokan gas elpiji di pasar juga memperparah keputusan tersebut, menambah beban biaya tetap yang sulit diprediksi.
Dampak finansial tersebut berujung pada pemotongan tenaga kerja; dari tiga karyawan sebelumnya, kini hanya tersisa dua orang untuk mengelola dapur produksi.
Pengurangan satu pekerja dilakukan agar margin keuntungan tidak turun drastis, sekaligus menjaga kelangsungan operasional harian.
Ukuran tahu yang lebih kecil menjadi kompromi utama, namun rasa dan kualitas tetap dipertahankan demi kepuasan konsumen setempat.
Pelanggan utama Samsul meliputi pedagang bakso, penjual gorengan, dan pedagang tahu kocek, yang sebagian besar mengandalkan produk dengan harga terjangkau.
Meskipun ukuran berkurang, permintaan tetap stabil karena daya beli konsumen belum mengalami penurunan signifikan pada fase awal Ramadan.
Samsul berharap harga kedelai dapat kembali normal dalam beberapa minggu ke depan, sehingga beban produksi tidak terus menumpuk.
Kenaikan harga kedelai diperkirakan memberi tekanan serupa pada perajin tahu lain di Jember, yang umumnya beroperasi dengan margin tipis.
Beberapa pedagang pasar mengungkapkan kekhawatiran bahwa penurunan ukuran produk dapat menurunkan nilai jual per porsi, meski harga jual tetap dijaga.
Pemerintah Kabupaten Jember melalui Dinas Perindustrian menyatakan akan memantau fluktuasi harga bahan pokok dan mempertimbangkan bantuan subsidi bagi usaha mikro.
Sementara itu, koperasi produsen kedelai daerah berupaya meningkatkan pasokan lokal untuk menurunkan ketergantungan pada pasar nasional.
Situasi saat ini menunjukkan perajin masih beradaptasi, dengan harapan stabilitas harga kedelai akan mengembalikan keseimbangan antara biaya produksi dan kepuasan pelanggan.
Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.







Tinggalkan Balasan