Media KampungAgus R. Sarjono dan Berthold Damshauser secara resmi meluncurkan buku Antologi Puisi Agung Jerman di Perpustakaan Wisma Habibie Ainun, Jakarta Selatan, pada Senin (8/6). Acara ini diawali dengan pembacaan puisi oleh Berthold Damshauser, yang akrab disapa Pak Trum, dan dilanjutkan diskusi bersama Agus R. Sarjono serta Ilham Akbar Habibie, yang turut menulis pengantar buku tersebut.

Buku ini merupakan hasil kerja sama penerjemahan puisi Jerman yang telah dimulai sejak 2003. Agus mengungkapkan bahwa para penyair besar Jerman seperti Rainer Maria Rilke, Friedrich Nietzsche, Johann Wolfgang von Goethe, Hermann Hesse, dan Bertolt Brecht seolah ‘bertemu kembali’ dalam halaman-halaman buku ini. ‘Mereka yang sudah saling kangen itu akhirnya bisa jumpa kembali dalam warna hitam atas putih. Bahagia mereka. Kami ini hanya fasilitator,’ ujar Trum.

Ilham Akbar Habibie berperan penting dalam penerbitan buku ini. Ia tidak hanya menulis pengantar, tetapi juga menyediakan Perpustakaan Wisma Habibie Ainun sebagai tempat peluncuran. Menurut Ilham, dukungan ini merupakan kelanjutan dari apresiasi mendiang BJ Habibie terhadap karya Agus dan Trum sejak puluhan tahun lalu.

Buku Antologi Puisi Agung Jerman memuat sekitar 15 puisi dari masing-masing delapan penyair besar Jerman. Proses penerjemahan menjadi tantangan tersendiri karena harus mempertahankan makna sekaligus keindahan puitis dari bahasa aslinya. Agus menekankan bahwa memindahkan puisi dengan gaya dan metafora yang berbeda ke dalam bahasa Indonesia membutuhkan kerja keras. Trum menambahkan bahwa kolaborasinya dengan Agus, seorang penyair hebat Indonesia, menjadi kunci untuk menghasilkan teks Indonesia yang puitis.

Baik Agus maupun Trum mengaku sulit memilih puisi favorit dari buku tersebut. ‘Kita mencintai hampir semuanya, dengan cara berbeda-beda. Kalau cinta dengan perempuan sebaiknya satu, tapi kalau kepada puisi, boleh puluhan bahkan ratusan,’ kata Trum disambut tawa.

Dalam acara peluncuran, pembacaan puisi karya Rilke dan Nietzsche dalam bahasa Indonesia dan Jerman turut memeriahkan suasana. Trum mengajak generasi muda untuk menemukan kebahagiaan melalui kecintaan pada puisi. Sementara Agus berharap kreativitas generasi muda yang besar dapat ditopang oleh kebiasaan membaca puisi-puisi agung agar selera dan kreativitas mereka tetap terjaga.

Ilham Akbar Habibie berharap peluncuran buku ini tidak berhenti sebagai seremoni, melainkan menjadi bagian dari upaya membangun budaya baca di Indonesia. ‘Budaya belajar dan budaya baca harus kita dorong agar lebih banyak masyarakat membaca dan menikmati apa yang mereka baca,’ ujarnya. Ia menekankan bahwa di tengah dominasi budaya visual, sastra tetap memiliki peran penting dalam menyampaikan makna yang sulit diungkapkan melalui kalimat biasa.

Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.