Media Kampung – Audisi Banyuwangi Ethno Carnival 2026 resmi dibuka dengan mengusung tema Perang Bayu, sebuah upaya mengangkat kembali jejak sejarah Blambangan melalui seni budaya. Acara ini menjadi panggung utama bagi generasi muda Banyuwangi untuk mengekspresikan identitas lokal.

Seleksi audisi dilaksanakan pada 21 dan 22 April 2026 di dua lokasi berbeda, yaitu Kantor Kecamatan Genteng dan Kantor Dinas Kebudayaan serta Pariwisata (Disbudpar) Banyuwangi. Kedua hari tersebut menargetkan peserta dari wilayah selatan‑barat serta wilayah perkotaan dan sekitarnya.

Kepala Bidang Pemasaran Disbudpar Banyuwangi, Ainur Rofik, menyampaikan bahwa seleksi pertama di Genteng bertujuan menjaring talenta dari daerah selatan dan barat. Ia menambahkan bahwa lokasi kedua di Disbudpar akan menampung peserta dari kawasan perkotaan.

Rofik menegaskan bahwa peserta yang lolos akan dipertandingkan pada puncak acara BEC pada 18 Juli 2026. Puncak tersebut dijadwalkan menjadi salah satu atraksi utama kalender pariwisata nasional.

Tema “Perang Bayu: The Great War of Blambangan” dipilih untuk menghidupkan kembali semangat perjuangan rakyat Blambangan pada abad ke‑19. Tema ini diharapkan dapat menumbuhkan rasa kebanggaan sekaligus menumbuhkan kesadaran historis di kalangan generasi muda.

Perang Bayu sendiri merupakan konflik internal di wilayah Blambangan yang melibatkan berbagai faksi melawan kolonial Belanda. Penggambaran konflik tersebut dalam bentuk visual, tari, dan musik menjadi fokus utama dalam proses seleksi.

Audisi tidak hanya menilai kualitas penampilan, melainkan juga kemampuan peserta dalam menginterpretasikan nilai budaya dan semangat Perang Bayu. Penilai akan memperhatikan keaslian, kreativitas, serta kedalaman pesan yang disampaikan.

“Kami mencari peserta yang mampu menjiwai semangat Perang Bayu dan menerjemahkannya ke dalam karya visual yang memukau,” ujar Rofik. Ia menambahkan bahwa audisi juga menjadi ruang ekspresi budaya bagi generasi muda Banyuwangi.

Pemerintah daerah menyiapkan total hadiah sebesar Rp60 juta untuk para pemenang, sebagai bentuk apresiasi atas kontribusi mereka dalam melestarikan budaya. Hadiah tersebut dibagi dalam beberapa kategori, termasuk pemenang utama, kategori kelompok, dan penghargaan inovasi.

Selain hadiah, BEC 2026 menjadi bagian penting dalam strategi pemasaran pariwisata regional. Melalui pertunjukan puncak, pemerintah berupaya memperkenalkan kekayaan budaya Banyuwangi kepada wisatawan domestik maupun internasional.

Kegiatan budaya serupa telah menjadi magnet bagi wisatawan yang tertarik pada warisan tradisional, sebagaimana terbukti pada festival budaya lainnya di Jawa Timur. BEC 2026 diharapkan menambah portofolio atraksi budaya di kawasan.

Registrasi peserta masih dibuka hingga 15 April 2026, dengan proses pendaftaran secara online melalui portal resmi Disbudpar. Saat ini, respons masyarakat menunjukkan antusiasme tinggi, menandakan keberhasilan program dalam menggalang partisipasi luas.

Dengan semua persiapan yang telah matang, audisi Banyuwangi Ethno Carnival 2026 siap melahirkan karya-karya yang tidak hanya menghibur, namun juga mendidik tentang nilai‑nilai historis dan kebudayaan Blambangan. Keberhasilan acara ini diharapkan menjadi contoh bagi program budaya serupa di masa depan.

Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.