Media Kampung – Saham BBCA mengalami tekanan signifikan akibat sentimen makro yang kurang bersahabat, meski fundamental perusahaan tetap kuat.

Harga saham turun ke Rp 5.975 per lembar pada Senin 27 April 2026, sementara nilai kapitalisasi pasar berada di sekitar Rp 423,74 miliar.

Sentimen makro melemah dipicu oleh kebijakan moneter global yang ketat, inflasi domestik yang masih di atas target, serta pelemahan nilai tukar Rupiah.

Bank Central Asia (BCA) mempertahankan rasio kecukupan modal (CAR) di atas 20%, menunjukkan ketahanan terhadap guncangan eksternal.

Kuartal pertama 2026 mencatat laba bersih sebesar Rp 9,8 triliun, naik 7,5% YoY, didorong oleh pertumbuhan kredit ritel dan korporasi.

Return on Equity (ROE) BCA tetap berada di kisaran 18,2%, lebih tinggi dibandingkan rata-rata industri sebesar 14,5%.

Analis sekuritas menilai BBCA sebagai saham dengan prospek menengah hingga panjang, memberikan rekomendasi beli dengan target harga Rp 6.800.

Pada sesi perdagangan Senin, indeks LQ45 turun 0,8% dan BCA tercatat sebagai kontributor utama penurunan pasar.

Volume transaksi mencapai 12,4 juta lembar, mencerminkan minat jual yang intens dari investor institusional.

Dividen per lembar yang diumumkan pada akhir Maret tetap sebesar Rp 150, menandakan kebijakan pembagian laba yang konsisten.

Pertumbuhan kredit BCA mencapai 9,3% YoY, dipimpin oleh sektor konsumer dan usaha kecil menengah.

Digital banking BCA mencatat kenaikan transaksi non-tunai sebesar 22% YoY, memperkuat basis nasabah digital.

Risiko kredit tetap terkendali dengan rasio NPL di bawah 1,0%, jauh di bawah batas aman 3%.

Proyeksi pertumbuhan PDB Indonesia untuk 2026 diperkirakan sebesar 5,2%, memberi ruang bagi permintaan kredit yang berkelanjutan.

Bank Indonesia diprediksi akan menahan suku bunga Acuan di 5,75% hingga akhir tahun, menstabilkan biaya dana bank.

Investor asing menurunkan eksposur pada indeks saham Indonesia, namun tetap mempertahankan posisi di BBCA karena likuiditas tinggi.

Dengan fondasi keuangan yang solid, rekomendasi analis tetap positif meski volatilitas pasar jangka pendek masih tinggi.

Kondisi terbaru menunjukkan harga BBCA berfluktuasi di kisaran Rp 5.950‑6.050, menunggu arah pasar setelah data inflasi dan kebijakan moneter terbaru.

Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.