Media Kampung – Bursa saham Amerika Serikat atau Wall Street ditutup beragam pada perdagangan Kamis (22/10), dengan indeks S&P 500 dan Nasdaq melemah tajam di tengah kekhawatiran baru investor terhadap besarnya belanja perusahaan untuk pengembangan akal imitasi atau AI.
Mengutip Reuters, Jumat (23/10), Nasdaq Composite merosot 2,60 persen atau 694 poin ke level 26.008,86. S&P 500 turun 1,21 persen atau 93,74 poin menjadi 7.663,43, sementara Dow Jones Industrial Average naik tipis 11,89 poin atau 0,02 persen ke level 52.867,98.
Tekanan di sektor teknologi muncul setelah sejumlah perusahaan besar merilis laporan keuangan yang kembali memicu pertanyaan investor mengenai besarnya investasi AI dan potensi keuntungan yang dapat dihasilkan dari teknologi tersebut. Saham Meta Platforms anjlok 7 persen meski kinerja perusahaan melampaui ekspektasi analis. Saham Tesla juga melemah 3,1 persen.
Aksi jual paling tajam terlihat di sektor semikonduktor. Indeks Philadelphia Semiconductor atau SOX merosot 6,7 persen, menjadi penurunan persentase harian terbesar sejak 23 Juni. Sejumlah saham produsen cip ikut tertekan, di antaranya Intel, AMD, Sandisk, dan Marvell yang masing-masing turun lebih dari 8 persen.
Paul Nolte, penasihat kekayaan senior sekaligus ahli strategi pasar di Murphy Sylvest, mengatakan saham teknologi menjadi bagian pasar yang paling terpukul setelah sebelumnya menjadi pendorong utama penguatan bursa. “Investor mulai menyadari bahwa ada sejumlah celah dalam narasi AI,” kata Nolte.
Menurut dia, tekanan pada saham teknologi turut memengaruhi indeks utama AS karena sektor tersebut memiliki bobot besar di dalamnya.
Selain kekhawatiran terhadap investasi AI, investor juga mencermati perkembangan geopolitik di Timur Tengah. Serangan baru kelompok Houthi yang didukung Iran terhadap sejumlah target di Arab Saudi mendorong harga minyak mentah ke level tertinggi dalam lima bulan.
Kenaikan harga minyak memicu kekhawatiran bahwa konflik berkepanjangan dapat mempertahankan inflasi pada level tinggi dan membuat Federal Reserve atau The Fed terus menaikkan suku bunga.
Data Departemen Tenaga Kerja AS juga menunjukkan klaim awal tunjangan pengangguran masih berada di dekat level terendah dalam beberapa dekade. Kondisi pasar tenaga kerja yang relatif stabil memberi ruang bagi The Fed untuk tetap berfokus pada pengendalian inflasi.
Pelaku pasar memperhitungkan kemungkinan The Fed kembali menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin sebelum akhir tahun.
Di tengah pelemahan bursa, sejumlah saham justru menguat setelah perusahaan melaporkan kinerja yang lebih baik dari perkiraan atau menaikkan proyeksi bisnisnya. Saham Procter Gamble naik 5,6 persen, sementara Blackstone menguat 8,4 persen.












