Media Kampung – Tiga dari empat bank besar (big banks) telah merilis kinerja bank-only periode 5M26, yaitu Bank Central Asia (BBCA), Bank Mandiri (BMRI), dan Bank Negara Indonesia (BBNI). Secara umum, pendorong utama laba bersih bervariasi antar bank.
Pertumbuhan Laba Bersih
BMRI mencatat pertumbuhan laba bersih sebesar 19% YoY, didorong oleh kenaikan Net Interest Income (NII) yang solid di level 10% YoY, pertumbuhan opex rendah (5% YoY), dan penurunan beban provisi (-16% YoY). BBNI tumbuh 7% YoY dengan NII naik 15% YoY, namun beban provisi melonjak 31% YoY sehingga mendilusi laba. BBCA hanya tumbuh 2% YoY, dengan Non-Interest Income menjadi penopang utama (naik 9% YoY) di tengah NII yang flat (-1% YoY).
Pertumbuhan Kredit
BMRI dan BBNI mencatat pertumbuhan kredit masing-masing 21% YoY dan 25% YoY per Mei 2026. Jika mengesampingkan pinjaman ke PT Agrinas Pangan Nusantara (total Rp55 triliun per Maret 2026), pertumbuhan kredit masih kuat di level 16% YoY dan 17% YoY. BBNI lebih berhasil mengonversi pertumbuhan kredit menjadi NII berkat komposisi DPK yang seimbang antara CASA dan TD, sementara BMRI didominasi TD. Sebaliknya, BBCA cenderung konservatif dengan loan growth hanya 5% YoY, masih di bawah guidance 8-10% YoY.
Dampak Kenaikan Harga Minyak
Kenaikan harga minyak akibat perang AS-Iran belum terlihat pada kinerja 1Q26. Pada April dan Mei 2026, belum ada indikasi pemburukan: posisi kredit per Mei dibandingkan Maret masih tumbuh (BMRI 3%, BBNI 4%, BBCA 1%). Tren beban provisi bulanan juga tidak menunjukkan kenaikan berarti. Absennya pengereman kredit dan pembukuan provisi berlebih dinilai sebagai indikasi kondisi makro domestik yang lebih resilien dari kekhawatiran, atau optimisme bahwa tantangan akan normal dalam waktu dekat.
Key Takeaway dan Hal yang Perlu Dicermati
Dalam earnings call 2Q26 mendatang, fokus akan tertuju pada: 1) kondisi likuiditas perbankan dan tren Cost of Funds pasca kenaikan BI Rate 100 bps, 2) ruang menaikkan lending rate. Meskipun pemberian kredit yang masih berjalan dan stabilitas provisi dianggap positif, beban provisi bisa meningkat signifikan pada Juni 2026. Investor juga perlu memantau hasil MSCI Annual Market Classification pada 24 Januari 2026.
Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.





Tinggalkan Balasan