Media KampungBitcoin Depot, perusahaan operator Bitcoin ATM terbesar di Amerika Utara yang berbasis di Georgia, resmi mengajukan kebangkrutan secara sukarela melalui Chapter 11. CEO perusahaan, Alex Holmes, menyatakan bahwa model bisnis saat ini tidak dapat dipertahankan karena peningkatan regulasi yang semakin ketat.

Bitcoin ATM sendiri berbeda dengan ATM konvensional yang mengeluarkan uang fisik. Mesin ini berfungsi untuk memfasilitasi transaksi blockchain, namun biasanya membebankan biaya transaksi yang cukup tinggi. Meski demikian, biaya tersebut tidak cukup untuk menjaga kelangsungan bisnis Bitcoin Depot.

Holmes menjelaskan bahwa sejumlah negara bagian memberlakukan aturan kepatuhan yang semakin ketat bagi operator Bitcoin Teller Machine (BTM). Ada pembatasan transaksi baru, larangan operasi di beberapa wilayah, serta meningkatnya tuntutan hukum dan penegakan regulasi yang membuat bisnis perusahaan tertekan.

Akibat kondisi ini, lebih dari 9.000 mesin ATM Bitcoin Depot sudah tidak beroperasi. “Perkembangan ini sangat memengaruhi posisi bisnis dan keuangan Bitcoin Depot,” ujar Holmes. Ia menegaskan bahwa dalam situasi seperti ini, model bisnis perusahaan tidak lagi berkelanjutan.

Data keuangan menunjukkan penurunan pendapatan yang drastis. Pada kuartal pertama 2026, perusahaan mengalami penurunan pendapatan sebesar 49,2% dibanding tahun sebelumnya, dari keuntungan 12,2 juta dolar AS menjadi kerugian 9,5 juta dolar AS.

Selain tekanan regulasi, Bitcoin Depot juga menghadapi gugatan hukum. Jaksa Agung Iowa, Brenna Bird, mengajukan tuntutan terhadap Bitcoin Depot dan CoinFlip, operator ATM kripto lain, atas tuduhan gagal melindungi warga dari penipuan kripto. Gugatan tersebut menyebut kedua perusahaan mengambil keuntungan dari korban penipuan di Iowa dengan mengenakan biaya transaksi yang berlebihan dan sering tersembunyi.

Kasus ini mencuat di tengah laporan FBI yang menyebut korban kejahatan siber di AS mencapai hampir 21 miliar dolar AS pada tahun lalu, dengan keluhan terkait kripto dan kecerdasan buatan menjadi yang paling merugikan. Khusus untuk penipuan terkait Bitcoin ATM, kerugian mencapai 333 juta dolar AS.

Langkah Bitcoin Depot untuk menutup operasi dan menjual aset melalui proses kebangkrutan mencerminkan dampak besar regulasi ketat terhadap bisnis ATM kripto. Perusahaan harus menghadapi tantangan besar dalam menyesuaikan diri dengan aturan yang semakin rumit, termasuk larangan di beberapa wilayah.

Hingga saat ini, proses penutupan dan penjualan aset Bitcoin Depot masih berlangsung sebagai bagian dari upaya penyelesaian kebangkrutan yang tertib. Situasi ini menjadi peringatan bagi industri kripto terkait risiko bisnis yang muncul akibat perubahan regulasi dan tuntutan hukum yang makin meningkat.

Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.