Media Kampung – Perang yang berkecamuk di Iran kini berdampak signifikan pada pasokan bahan baku penting untuk produksi komponen teknologi global. Para pakar rantai pasok menyoroti bagaimana konflik ini mengganggu pengadaan material seperti helium, asam sulfat, dan resin PPE yang sangat dibutuhkan dalam proses pembuatan semikonduktor dan perangkat komputer.
Penutupan Selat Hormuz sebagai jalur utama pengiriman bahan bakar dan material kimia menyebabkan kelangkaan yang meluas. Salah satu yang paling krusial adalah helium, gas yang tidak tergantikan dalam proses pendinginan dan etsa pada pembuatan chip CPU, GPU, dan DRAM. Produksi helium yang sebagian besar berasal dari Qatar turut terhenti akibat serangan dari Iran, sehingga mengakibatkan gangguan pasokan yang serius.
Derek Lemke dari Exiger menegaskan bahwa helium adalah bahan wajib dalam manufaktur semikonduktor dan tidak memiliki substitusi. Selain helium, pasokan asam sulfat juga terganggu karena bahan ini digunakan untuk pembersihan wafer semikonduktor dan pembuatan lapisan tembaga di papan sirkuit cetak (PCB). Gangguan ini berpotensi menyebabkan kelangkaan tembaga, material vital dalam berbagai komponen komputer.
Resin PPE, bahan perekat utama dalam produksi PCB, juga mengalami dampak dari serangan ke fasilitas Saudi Basic Industries Corporation di Arab Saudi. Hal ini menyebabkan kenaikan harga PCB hingga 40 persen sejak Maret lalu. Aluminium, yang digunakan untuk heatsink GPU, casing, dan chassis laptop, mengalami lonjakan harga akibat serangan terhadap smelter besar di kawasan Teluk.
Selain itu, konflik ini menghambat pasokan bahan pelarut untuk fotoresist, seperti naphtha, yang berasal dari minyak mentah Iran. Fotoresist adalah polimer sensitif cahaya yang penting untuk proses litografi dalam pembuatan chip. Profesor Russ Renzas dari University of Nevada menjelaskan bahwa gangguan pasokan ini berimbas pada penurunan hasil produksi chip dan berpotensi menaikkan harga akhir produk teknologi.
Masalah utama yang dihadapi adalah konsentrasi geografis sumber bahan baku sehingga sulit mencari alternatif pengadaan dalam waktu singkat. Lemke menjelaskan bahwa rantai pasok sangat rentan karena bergantung pada beberapa titik kritis yang rawan terganggu. Bahkan jika Selat Hormuz dibuka kembali, kerusakan fasilitas produksi yang sudah terjadi tidak bisa diperbaiki dengan cepat.
Para ahli juga menyoroti risiko dari penerapan sistem manufaktur just-in-time yang efisien namun rapuh. Perusahaan seperti Samsung dan SK Hynix memiliki persediaan bahan yang minim, sehingga terganggu pasokan akan langsung berdampak pada produksi mereka. Meski sistem ini mengurangi biaya, gangguan pasokan saat ini menimbulkan tantangan besar.
Beberapa perusahaan mencoba mengadopsi strategi diversifikasi dan lokalisasi pasokan untuk mengurangi ketergantungan pada sumber tunggal. Contohnya adalah pembangunan fasilitas produksi semikonduktor TSMC di Arizona, AS, sebagai upaya mengurangi risiko geopolitik. Namun, keberhasilan strategi ini masih terbatas jika bahan baku seperti helium tetap harus diimpor dari kawasan yang terdampak konflik.
Jonathan Colehower dari UST memperkirakan pemulihan pasokan bahan baku ini minimal akan membutuhkan waktu enam bulan hingga satu setengah tahun karena infrastruktur yang rusak harus dibangun ulang. Dampak kenaikan harga kemungkinan besar akan lebih dirasakan oleh konsumen akhir, termasuk para gamer PC, karena prioritas pasokan cenderung diberikan pada perusahaan besar seperti penyedia infrastruktur AI.
Meskipun demikian, upaya diversifikasi dan pengamanan rantai pasok sedang berjalan untuk mengurangi tekanan harga di masa depan. Para ahli berharap pasar dan mekanisme kapitalisme akan membatasi kenaikan harga agar tidak berlarut-larut dan memberikan ruang bagi pemulihan secara bertahap.
Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.







Tinggalkan Balasan