Media Kampung – 18 April 2026 | ADARO Indonesia (PT Alamtri Resources Indonesia Tbk) menunjukkan kinerja kuat pada kuartal akhir 2025 meski ekspor batu bara Indonesia mengalami penurunan akibat curah hujan tinggi.
Data Badan Pusat Statistik mencatat penurunan volume ekspor batu bara sebesar 12,3% dibandingkan periode yang sama tahun lalu, sementara harga termal di pasar Asia mencapai level tertinggi enam tahun.
Faktor cuaca ekstrem memperlambat pengiriman batu bara dari pelabuhan utama di Kalimantan dan Sumatra, sehingga pasokan regional terbatas dan harga naik.
Permintaan energi di China tetap tinggi karena musim panas yang panas meningkatkan konsumsi listrik, sedangkan India, Korea Selatan, dan Jepang meningkatkan impor untuk menutupi kekurangan pasokan domestik.
Harga batu bara termal di pasar spot Asia mencapai US$115 per ton pada akhir Desember 2024, melampaui rata-rata tahunan sebelumnya sebesar US$95.
Dalam rapat umum pemegang saham tahunan (RUPST) yang digelar 3 Maret 2025, ADARO menyetujui dividen tunai senilai US$447,5 juta, setara 99,96% dari laba bersih tahun fiskal.
Dividen tersebut terbagi menjadi dividen interim US$250 juta yang sudah dibayarkan pada 15 Januari 2026 dan dividen final US$197,5 juta yang akan dibagikan akhir tahun.
Direktur Utama Garibaldi ‘Boy’ Thohir menekankan, ‘Kami berkomitmen memberikan nilai maksimal bagi pemegang saham melalui kebijakan dividen yang transparan dan berkelanjutan.’
Selain dividen, pemegang saham menyetujui program buyback saham senilai maksimal Rp5 triliun, yang diperkirakan akan mengurangi jumlah saham beredar sebanyak 589.195.200 lembar.
Pengurangan modal ditempatkan dan disetor menjadi Rp2,88 triliun, meningkatkan rasio kepemilikan per saham dan potensi pengembalian ekuitas.
Laba bersih ADARO pada tahun 2025 tercatat US$447,69 juta, turun signifikan dari US$1,38 miliar pada tahun 2024 karena penurunan pendapatan sebesar 9,87% year‑on‑year.
Pendapatan utama berasal dari segmen pertambangan sebesar US$966,34 juta, sementara jasa pertambangan menyumbang US$865,28 juta.
Meski laba menurun, profitabilitas tetap kuat dengan margin EBITDA sekitar 38%, mencerminkan efisiensi operasional dan kontrol biaya yang ketat.
Pada 5 Desember 2024, perusahaan Aadi (AADI) melantai di Bursa Efek Indonesia, mencatat kenaikan saham sebesar 19,82% pada hari pertama perdagangan.
Aadi menargetkan pertumbuhan produksi batu bara dengan mengadopsi teknologi penambangan ramah lingkungan, menguatkan prospek industri batu bara di Asia.
Analisis pasar menunjukkan bahwa permintaan batu bara di Asia diproyeksikan tetap tinggi hingga 2028, didorong oleh kebutuhan listrik di negara‑negara berkembang.
ADARO menegaskan strategi diversifikasi dengan investasi pada proyek energi terbarukan, termasuk pembangkit listrik tenaga surya seluas 150 megawatt di Jawa Barat.
CEO ADARO, Garibaldi Thohir, menambahkan, ‘Diversifikasi energi merupakan langkah penting untuk menjaga ketahanan perusahaan di tengah transisi energi global.’
Pembelian kembali saham diharapkan menstabilkan harga ADRO di Bursa Efek Indonesia, khususnya setelah tekanan jual dari investor asing pada kuartal pertama 2025.
Data Bursa menunjukkan aliran net sell investor asing sebesar Rp931,44 miliar pada minggu terakhir Desember 2024, meski indeks IHSG pulih ke level 7.634.
Investor domestik meningkatkan kepemilikan pada saham ADRO, mencerminkan kepercayaan pada kebijakan dividen dan rencana buyback.
Harga komoditas batu bara internasional dipengaruhi oleh kebijakan energi China yang menunda penutupan pembangkit batu bara, memperpanjang permintaan jangka menengah.
Di sisi lain, kebijakan carbon pricing di Uni Eropa menekan ekspor batu bara ke pasar Eropa, memaksa produsen Indonesia mengalihkan fokus ke pasar Asia.
ADARO berencana meningkatkan kapasitas produksi sebesar 5% pada tahun 2026 melalui modernisasi peralatan penambangan dan optimalisasi logistik pelabuhan.
Perusahaan juga menyiapkan program pelatihan bagi 2.000 tenaga kerja lapangan guna meningkatkan keselamatan kerja dan produktivitas.
Dalam laporan keberlanjutan, ADARO menyatakan penurunan intensitas emisi CO2 sebesar 12% per ton batu bara yang diproduksi dibandingkan tahun 2023.
Langkah tersebut sejalan dengan target pemerintah Indonesia untuk menurunkan emisi gas rumah kaca sebesar 29% pada 2030.
Secara keseluruhan, ADARO Indonesia berada pada posisi yang kuat dengan kebijakan keuangan yang mendukung pemegang saham dan strategi diversifikasi yang mengantisipasi perubahan pasar energi global.
Ke depan, perusahaan akan memantau perkembangan cuaca, kebijakan energi regional, dan dinamika harga batu bara untuk menyesuaikan strategi operasionalnya.
Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.







Tinggalkan Balasan