Media Kampung – Kecelakaan kereta api yang terjadi pada Senin (27/4) malam di Stasiun Bekasi Timur menewaskan 16 orang dan melukai 90 korban lainnya, memicu seruan peneliti Pusat Studi Transportasi dan Logistik (PUSTRAL) UGM untuk menghapus perlintasan sebidang demi mencegah tragedi berulang.
Insiden melibatkan kereta kelas eksekutif Argo Bromo Anggrek yang menabrak sebuah taksi online yang sedang berhenti di perlintasan, kemudian menabrak rangkaian KRL Commuter Line yang melintas di jalur yang sama.
Peneliti PUSTRAL, Iwan Puja Riyadi, menilai bahwa kecelakaan bukan akibat satu faktor tunggal melainkan rangkaian peristiwa berantai yang berawal dari keberadaan kendaraan di perlintasan sebidang.
“Mungkin ada taksi yang mati atau berhenti di perlintasan, itulah faktor primer yang memicu kecelakaan,” ujar Iwan pada Kamis (30/4) dalam konferensi pers di kampus UGM.
Ia menambahkan bahwa meskipun kereta dilengkapi sistem blok modern, keterlambatan penyampaian informasi membuat Argo Bromo Anggrek tidak dapat menghentikan lajunya secara mendadak.
Kepadatan lalu lintas kereta di wilayah stasiun tersebut memperparah situasi, sementara perilaku melanggar palang pintu menunjukkan rendahnya kesadaran masyarakat terhadap teknologi keselamatan.
Iwan menekankan bahwa regulasi menolak perlintasan sebidang kecuali dalam kondisi khusus, sehingga pembangunan flyover atau underpass menjadi solusi struktural yang paling efektif.
Pihak kepolisian dan Direktorat Jenderal Perkeretaapian kini tengah menyelidiki penyebab pasti, sementara pemerintah daerah berjanji akan mempercepat proses perencanaan infrastruktur pemisahan lintas jalan dan rel kereta.
Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.







Tinggalkan Balasan