Media Kampung – Ratusan karangan bunga masih menghiasi Stasiun Bekasi Timur satu minggu setelah kecelakaan fatal antara KA Argo Bromo Anggrek dan KRL Commuter Line menewaskan 16 perempuan. Lautan bunga ini menjadi saksi visual duka yang belum terhapus dari ingatan warga, penumpang, dan pekerja kereta api.

Tragedi terjadi pada Senin 27 April 2026 malam di jalur rel Jakarta‑Cikarang, ketika kereta jarak jauh menabrak rangkaian KRL yang sedang melaju. Kecelakaan menewaskan 16 korban, semua perempuan yang rutin menggunakan KRL untuk menempuh perjalanan kerja. Pihak PT Kereta Api Indonesia (KAI) mencatat 16 korban meninggal dunia dan puluhan lainnya luka-luka.

Sejak hari Selasa, relawan, penumpang, dan warga sekitar mulai menumpuk karangan bunga di area lantai satu, sisi rel, hingga halaman bawah stasiun. Bunga-bunga tersusun rapi, menutupi hampir seluruh sudut stasiun, menciptakan lautan warna yang kontras dengan hiruk‑pikuk aktivitas commuter.

“Hari ini memang sengaja datang untuk menaruh bunga. Pas baru keluar kereta udah gemeteran banget, soalnya teringat banyak yang seumuran kita yang jadi korban,” ujar Ningsih (30), warga Kalideres, Jakarta Barat, yang datang bersama empat rekannya. Ia menambahkan, “Kami yang enggak kenal aja bisa ngerasa sedih banget, apalagi keluarga yang ditinggalkan.”

Sarah (22), seorang mahasiswi asal Bekasi, juga menambah deretan bunga dengan belasan buket. “Sebagai perempuan, dan sebagai pengguna KRL yang juga bekerja di Jakarta, saya ikut merasakan duka cita kepada para korban,” kata Sarah, menekankan rasa empati yang meluas ke semua kalangan pengguna transportasi umum.

Perwakilan KAI, Anne Purba, Vice President Corporate Communication, menilai momen tersebut mencerminkan ikatan emosional kuat antar pengguna layanan kereta. “Kami melihat bagaimana pelanggan hadir dengan ketulusan, membawa doa, dan saling menguatkan. Di tengah situasi ini, kita merasakan bahwa perjalanan bersama juga menghadirkan rasa saling menjaga,” ujarnya pada Minggu 3 Mei 2026.

Data KAI menunjukkan peningkatan signifikan pengguna Commuter Line di wilayah Cikarang, dari 55,6 juta penumpang pada 2022 menjadi 85,9 juta pada 2025. Frekuensi perjalanan harian naik dari 158 menjadi 281 kereta, menandakan ketergantungan tinggi masyarakat pada jaringan rel ini.

Alesya, seorang pengguna KRL harian, menyampaikan alasan pribadi ia menambahkan rangkaian bunga. “Saya setiap hari naik KRL. Entah kenapa rasanya dekat, seperti kehilangan teman perjalanan,” ungkapnya di antara deretan karangan. Kresna, penumpang lain, menambah, “Tiap hari kita berangkat bareng, walau tidak saling sapa. Tapi rasanya tetap satu perjalanan.”

Selain bunga, banyak surat berisi ucapan belasungkawa tersebar di lantai satu stasiun. Tulisan tangan dan ketikan mengungkapkan rasa kehilangan, dukungan moral, serta doa untuk keluarga korban. Pengunjung stasiun sering berhenti sejenak, menunduk, atau berdoa sebelum melanjutkan perjalanan.

Kondisi terbaru menunjukkan lautan bunga belum berkurang signifikan hingga 4 Mei 2026, menandakan bahwa rasa duka masih tetap hidup di hati publik. Petugas KAI terus membersihkan area yang diperlukan, namun membiarkan rangkaian bunga tetap berada sebagai bentuk penghormatan dan pengingat akan pentingnya keselamatan transportasi massal.

Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.