Media Kampung – Penumpang yang selamat dari kecelakaan KRL di Stasiun Bekasi Timur pada 27 April 2026 memberikan kesaksian bahwa ada yang tidak beres sebelum kereta menabrak kendaraan listrik Green SM, sehingga banyak penumpang tiba-tiba terpental.

Menurut laporan resmi Komisi Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT), rangkaian KRL yang melintas pada malam itu menabrak taksi listrik Green SM yang macet di perlintasan sebidang JPL‑85. Kendaraan tersebut tidak dapat digerakkan karena sistem pengunci tiba‑tiba mengunci (ngonci) ketika berada tepat di atas rel, menurut sopir taksi yang terekam dalam video viral.

Kejadian itu memicu tabrakan beruntun antara KRL Commuter Line (PLB 5568A) dan Kereta Api (KA) Argo Bromo Anggrek (KA 4) yang sedang melaju dari Jakarta menuju Surabaya. Akibat benturan, rangkaian KRL terhenti, kereta api meluncur menabrak gerbong yang sudah berhenti, dan sejumlah gerbong mengalami kerusakan parah.

Survivor bernama Andi Pratama, 34‑tahun, mengaku berada di gerbong tengah ketika kereta melaju tiba‑tiba. “Saya merasa seperti ditarik ke belakang, tubuh meluncur, dan ada suara jeritan ‘Woy keluar!’ di sekeliling,” ujarnya. Ia menyaksikan beberapa penumpang lain terlempar ke lantai, sebagian bahkan keluar dari pintu gerbong yang terbuka karena benturan.

Seorang wanita bernama Siti Nurhaliza, 28‑tahun, mengisahkan bahwa ia berusaha memegang pegangan namun tidak berhasil. “Saya terjatuh, tubuh berputar, dan ketika saya bangun, ada orang‑orang yang sudah tergeletak di lantai, ada pula yang berteriak meminta tolong,” kata Siti. Kedua saksi menekankan bahwa sebelum tabrakan, mereka merasakan getaran aneh pada rel dan suara motor taksi yang berhenti mendadak.

Laporan pihak kepolisian menunjukkan bahwa sebanyak 15 orang meninggal dunia, sementara lebih dari 80 orang mengalami luka-luka ringan hingga serius. Korban meninggal sebagian besar berada di dalam gerbong wanita, yang diketahui mengalami kerusakan struktural paling parah.

Tim penanganan darurat mengerahkan alat berat untuk memindahkan gerbong yang rusak dan mengevakuasi penumpang yang terperangkap. Rumah sakit di wilayah Bekasi, termasuk RSUD Bekasi, RS Bella, dan RS Hermina, menerima lebih dari 80 pasien dengan cedera kepala, patah tulang, serta luka memar.

Komite KNKT masih menelusuri penyebab teknis pada taksi listrik yang mengunci secara mendadak. Sementara itu, Kementerian Perhubungan meminta klarifikasi resmi dari operator taksi Green SM dan PT Kereta Api Indonesia (KAI) terkait prosedur keselamatan di perlintasan sebidang.

Analisis awal menunjukkan bahwa kegagalan sistem pengunci kendaraan listrik dapat menyebabkan kendaraan terhenti di atas rel, menghalangi jalur kereta. Jika tidak ada mekanisme darurat untuk mengeluarkan kendaraan secara cepat, risiko tabrakan berantai seperti ini meningkat.

Pihak KAI menyatakan bahwa prosedur pengamanan di perlintasan terbatas karena tidak ada palang pintu otomatis. Mereka berjanji akan meninjau kembali kebijakan penempatan perlintasan sebidang di daerah padat penduduk dan mempertimbangkan instalasi sistem peringatan dini.

Selain korban jiwa, insiden ini menimbulkan gangguan layanan KRL selama lebih dari 12 jam. Rute Bekasi‑Cikarang sempat dialihkan, dan kereta Argo Bromo Anggrek melanjutkan perjalanan dengan penumpang lengkap setelah menunggu evakuasi gerbong KRL.

Hingga saat ini, semua penumpang kereta Argo Bromo Anggrek dilaporkan selamat, sedangkan proses identifikasi korban KRL masih berlangsung dengan bantuan tim Disaster Victim Identification (DVI) Polri yang menggunakan sidik jari dan data medis.

Kejadian ini menegaskan pentingnya koordinasi antara operator transportasi darat dan rel, serta perlunya inspeksi rutin pada kendaraan listrik yang melintasi perlintasan. Masyarakat diimbau untuk tetap waspada dan melaporkan hal‑hal mencurigakan pada perlintasan publik.

Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.