Media Kampung – 13 April 2026 | Wali Kota Bogor, Dedie Abdu Rachim, mengungkapkan perkembangan terbaru proyek trem Bogor yang kini memasuki fase konstruksi utama, menjanjikan peningkatan mobilitas warga dan penurunan kemacetan di kawasan metropolitan Bogor.
Proyek trem ini direncanakan mencakup tiga jalur utama dengan total panjang sekitar 28 kilometer, menghubungkan Stasiun Bogor, Terminal BRT, dan Sentra Bisnis di Kota Bogor. Hingga akhir Februari 2024, pengerjaan fondasi jalur pertama telah mencapai 45 persen, dengan pemasangan tiang penyangga mulai dilakukan di wilayah Sawangan dan Cibinong.
Anggaran proyek sebesar Rp 6,5 triliun sebagian besar berasal dari pemerintah pusat melalui Kementerian Perhubungan, sementara sisa dana dipenuhi oleh kontribusi pemerintah daerah dan kemitraan dengan pihak swasta. Hingga kini, sekitar 78 persen dana telah dicairkan dan dialokasikan untuk pekerjaan tanah, pemasangan rel, serta pengadaan rolling stock.
Untuk mengatasi tantangan teknis, tim pelaksana mengadopsi teknologi sistem kontrol otomatis (CBTC) yang memungkinkan operasi trem dengan jarak antar kereta minimal 90 detik. Sistem ini diharapkan meningkatkan kapasitas transportasi hingga 12 ribu penumpang per jam pada tiap jalur.
Selain aspek teknis, proyek ini juga memperhatikan dampak sosial dan lingkungan. Selama proses perencanaan, dilakukan kajian lingkungan hidup (AMDAL) yang menyimpulkan bahwa dampak negatif dapat diminimalisir dengan penanaman kembali pepohonan di sekitar area konstruksi dan penggunaan material ramah lingkungan pada struktur penyangga.
Kondisi cuaca di wilayah Bogor, yang dikenal dengan curah hujan tinggi, menjadi pertimbangan penting dalam jadwal pekerjaan. Tim konstruksi mengimplementasikan metode pengerjaan yang tahan terhadap intensitas hujan, termasuk penggunaan beton cepat keras dan penutup sementara pada area kerja untuk mencegah erosi tanah.
Sejumlah warga sekitar jalur trem mengungkapkan harapan mereka bahwa proyek ini akan mengurangi kepadatan lalu lintas, terutama pada jam sibuk pagi dan sore. “Kami menantikan trem sebagai alternatif yang lebih nyaman dibandingkan kendaraan pribadi,” kata Budi Santoso, warga Kelurahan Cibinong.
Namun, ada pula kekhawatiran mengenai potensi penurunan nilai properti di area yang terkena jalur rel. Pemerintah daerah menanggapi dengan menjanjikan program kompensasi dan bantuan perbaikan rumah bagi warga yang terdampak langsung.
Secara keseluruhan, proyek trem Bogor berada pada jalur yang tepat dengan progres fisik yang konsisten dan dukungan keuangan yang memadai. Dedie Abdu Rachim menegaskan bahwa transparansi dan akuntabilitas akan terus dijaga melalui laporan periodik kepada publik dan pengawasan independen.
Dengan target operasional pada akhir 2025, trem Bogor diharapkan menjadi tulang punggung transportasi publik yang menghubungkan pusat kota, area perumahan, dan zona industri, sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi daerah melalui peningkatan aksesibilitas.
Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.







Tinggalkan Balasan