Media Kampung, Makkah – Sheikh Ibrahim bin Adel Al Madani, salah satu muazin utama di Masjidil Haram, meninggal dunia pada Senin, 21 September 2026, setelah mengumandangkan azan Subuh terakhirnya di masjid suci tersebut. Kepergiannya meninggalkan duka mendalam bagi jamaah dan umat Muslim di seluruh dunia yang mengenal suaranya yang merdu dan khusyuk.
Sheikh Ibrahim Al Madani lahir di Madinah pada tahun 1976 dalam keluarga religius yang sangat menghargai ilmu Al-Qur’an. Ia mulai mengumandangkan azan sejak usia 15 tahun di masjid lingkungan tempat tinggalnya. Setelah sempat berhenti sementara karena bekerja sebagai pengajar di luar Madinah, ia kembali menjadi muazin dan kemudian dipercaya bertugas di Masjidil Haram sekitar tahun 2017-2018.
Selama bertugas, Sheikh Ibrahim dikenal sebagai salah satu dari 24 muazin utama yang secara bergiliran mengumandangkan azan lima waktu, termasuk azan pertama sebelum salat Subuh. Selain tugas mengumandangkan azan, ia juga menjalankan tugas tabligh, yaitu menyampaikan takbir dan meneruskan gerakan imam melalui pengeras suara sehingga dapat didengar oleh seluruh jamaah di Masjidil Haram.
Suara azannya, khususnya azan Subuh, dikenal luas dan menjadi bagian penting dari suasana ibadah di Masjidil Haram. Rekaman azan Subuh yang dikumandangkannya pada Senin dini hari menjadi azan terakhir sebelum ia menghembuskan napas terakhir beberapa jam kemudian.
Jenazah Sheikh Ibrahim Al Madani disalatkan di Masjidil Haram setelah salat Asar dan kemudian dimakamkan di Pemakaman Al Mualla, kompleks pemakaman bersejarah di Makkah. Kepergian beliau menutup perjalanan panjang seorang muazin yang dikenal karena dedikasi dan suaranya yang menyentuh hati jamaah.
Penghormatan dan ucapan duka cita mengalir dari berbagai kalangan, baik dari jamaah yang hadir di Masjidil Haram maupun pengguna media sosial yang membagikan rekaman suara azan dan takbir beliau. Kepergian beliau menjadi kehilangan besar bagi dunia Islam dan komunitas muazin di Masjidil Haram.
Sheikh Ibrahim Al Madani dikenal sebagai sosok yang telah mengabdikan dirinya untuk mengumandangkan azan dengan penuh khusyuk dan suara yang khas, khususnya pada waktu Subuh. Dedikasinya memberikan warna spiritual tersendiri bagi jamaah yang menunaikan ibadah di Masjidil Haram.















Tinggalkan Balasan