Media Kampung – Dua dekade setelah serangan 11 September 2001, Al Qaeda tidak lenyap. Organisasi ini justru menunjukkan adaptasi luar biasa, tetap eksis di berbagai belahan dunia. Pada 2026, di bawah kepemimpinan baru, Al Qaeda hadir lebih tersebar, pragmatis, dan berbahaya.
Kepemimpinan Baru: Saif al-Adel
Setelah kematian Ayman al-Zawahiri pada Juli 2022, Al Qaeda berada di bawah kendali de facto Saif al-Adel, mantan perwira pasukan khusus Mesir berusia 62 tahun yang konon berbasis di Iran. Berbeda dengan pendahulunya yang ideolog, al-Adel adalah komandan militer yang fokus pada operasional. Keberadaannya yang dilindungi IRGC menciptakan paradoks Sunni-Syiah, meski Iran membantah.
Pergeseran Strategi: Dari Global ke Lokal
Di bawah al-Adel, strategi Al Qaeda bergeser dari serangan spektakuler ala 9/11 ke penguatan akar lokal. Jaringan global tetap ada, namun mereka melebur ke konflik lokal, memanfaatkan ketidakstabilan wilayah.
Aksi di Afrika Barat: Serangan JNIM di Niger
Pada 18 Juni 2026, afiliasi JNIM menyerang Bandara Internasional Diori Hamani dan pangkalan militer di Niamey, Niger. Serangan terkoordinasi menewaskan 11 tentara dan 2 warga sipil, sementara 22 penyerang tewas. Ini serangan kedua dalam lima bulan ke lokasi sama, menunjukkan peningkatan kapasitas militer JNIM di Sahel.
Hubungan dengan Taliban di Asia Selatan
Hubungan simbiosis Al Qaeda dan Taliban semakin erat. Pada 26 Juni 2026, Komando Umum Al Qaeda secara terbuka menyatakan dukungan penuh untuk Taliban, memperkuat posisi mereka di Afghanistan.
Artikel ini telah ditinjau & dipublikasikan oleh Tim Editorial Media Kampung.





Tinggalkan Balasan