Media Kampung – Kualitas udara di Kota Palembang, Sumatera Selatan, kembali berada pada level berbahaya setelah kabut asap tebal menyelimuti sejumlah wilayah pada Rabu dini hari. Berdasarkan pemantauan aplikasi IQAir, lima titik pemantauan di Palembang dan sekitarnya mencatat angka indeks kualitas udara yang tinggi.
Kondisi ini terjadi setelah kualitas udara sempat membaik selama dua hari terakhir. Asap yang menyelimuti kawasan terpantau pekat dan menimbulkan bau menyengat, serta jarak pandang di beberapa lokasi dilaporkan terganggu. Data IQAir menunjukkan Universitas Sriwijaya (Unsri) mencapai angka 1.083, kawasan Demang Lebar Daun 1.057, Musi 2 953, GP PLM 983, dan Sukarami 834. Angka-angka ini menunjukkan kondisi kualitas udara yang sangat buruk berdasarkan skala AQI yang digunakan IQAir.
Kabut Asap Kembali Pekat
Setelah sempat membaik, kabut asap kembali menyelimuti sejumlah kawasan di Palembang, menambah kekhawatiran masyarakat terhadap dampak pencemaran udara, terutama bagi anak-anak, lansia, dan warga yang memiliki gangguan pernapasan. Asap diduga berasal dari kebakaran hutan dan lahan (karhutla), termasuk kebakaran di lahan gambut di Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI), Sumatera Selatan.
Meski demikian, hubungan langsung antara kebakaran di OKI dan kondisi udara di setiap titik pemantauan Palembang perlu dikonfirmasi melalui data resmi mengenai sebaran asap, arah angin, dan sumber kebakaran.
Imbauan untuk Masyarakat
Masyarakat diimbau untuk terus memantau perkembangan kualitas udara melalui sumber informasi tepercaya, termasuk aplikasi IQAir dan informasi resmi dari instansi terkait. Dalam kondisi udara yang sangat tercemar, masyarakat disarankan untuk mengurangi aktivitas di luar ruangan, terutama ketika asap terlihat pekat atau menimbulkan bau menyengat.
Bagi warga yang harus beraktivitas di luar rumah, disarankan untuk menggunakan respirator yang sesuai, seperti N95 atau KN95, serta menghindari olahraga berat. Pintu dan jendela sebaiknya ditutup saat asap masuk ke lingkungan permukiman. Jika tersedia, gunakan pembersih udara dalam ruangan dengan filter HEPA.
Masyarakat juga perlu memperhatikan gejala seperti batuk, sesak napas, atau iritasi mata. Jika mengalami gangguan pernapasan berat, segera cari pertolongan medis. Perkembangan kualitas udara di Palembang perlu dipantau secara berkala karena kondisi dapat berubah mengikuti arah angin, intensitas kebakaran, dan faktor cuaca.












